Rock Church Logo

Bersukacitalah "Saudaramu Telah Mati dan Hidup Kembali"

Sermon by: Ps. Lydia Yusuf
20 September 2026

Bersukacitalah “saudaramu telah mati dan hidup kembali!”

 

Lukas 15:1–2, 11–32

1 Pada saat itu, para pemungut pajak dan “orang berdosa” berkumpul di sekeliling-Nya untuk mendengarkan-Nya.

2 Namun, orang-orang Farisi dan ahli Taurat berbisik, “Orang ini menerima orang berdosa dan makan bersama mereka.”

 

11 Yesus melanjutkan: “Ada seorang laki-laki yang memiliki dua anak laki-laki.”

12 Anak bungsunya berkata kepada ayahnya, ‘Ayah, berikanlah kepadaku bagian warisan yang menjadi hakku.’ Maka ia membagi harta miliknya di antara mereka.

13 “Tak lama setelah itu, anak bungsu itu mengumpulkan semua yang dimilikinya, berangkat ke negeri yang jauh dan di sana ia menghambur-hamburkan kekayaannya dengan hidup berfoya-foya.

14 Setelah ia menghabiskan segalanya, terjadi kelaparan hebat di seluruh negeri itu dan ia mulai mengalami kekurangan.

15 Lalu ia pergi dan bekerja sebagai buruh upahan bagi seorang warga negeri itu, yang mengutusnya ke ladangnya untuk menggembalakan babi.

16 Ia sangat ingin mengisi perutnya dengan polong-polong yang dimakan babi-babi itu tetapi tidak ada seorang pun yang memberinya apa pun.

17 Ketika ia sadar, ia berkata, ‘Betapa banyak pekerja ayahku yang memiliki makanan berlebih sedangkan aku di sini hampir mati kelaparan!

18 Aku akan berangkat dan kembali kepada ayahku, lalu berkata kepadanya: Ayah, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap Engkau.

19 Aku tidak layak lagi disebut anak-Mu; jadikanlah aku seperti salah seorang pekerja-Mu.’

20 Lalu ia bangkit dan pergi menemui ayahnya. Tetapi ketika ia masih jauh, ayahnya melihatnya dan tergerak hatinya oleh belas kasihan; ia berlari menghampiri anaknya, memeluknya dan menciumnya.

21 Anak itu berkata kepadanya, ‘Ayah, aku telah berdosa terhadap langit dan terhadap Engkau. Aku tidak layak lagi disebut anak-Mu.’

22 Tetapi sang ayah berkata kepada para pelayannya, ‘Cepat! Bawakan jubah terbaik dan kenakanlah padanya. Pasangkan cincin di jarinya dan sandal di kakinya.

23 Bawakan anak sapi yang gemuk itu dan sembelihlah. Mari kita mengadakan pesta dan merayakannya.

24 Sebab anakku ini telah mati dan kini hidup kembali; ia telah hilang dan kini ditemukan.’ Maka mereka pun mulai merayakannya.

25 Sementara itu, anak sulung sedang berada di ladang. Ketika ia mendekati rumah, ia mendengar suara musik dan tarian.

26 Lalu ia memanggil salah seorang hamba dan bertanya kepadanya apa yang sedang terjadi.

27 “Adikmu telah pulang,” jawab hamba itu, “dan ayahmu telah menyembelih anak sapi yang gemuk karena ia telah mendapatkannya kembali dalam keadaan selamat dan sehat.”

28 Anak sulung itu menjadi marah dan menolak untuk masuk. Maka ayahnya pun keluar dan membujuknya.

29 Tetapi ia menjawab ayahnya, ‘Lihatlah! Selama bertahun-tahun ini aku telah bekerja keras untukmu dan tak pernah melanggar perintahmu. Namun, engkau tak pernah memberiku seekor kambing muda’pun agar aku bisa merayakan bersama teman-temanku.

30 Tetapi ketika anakmu ini yang telah menghambur-hamburkan harta bendamu bersama pelacur-pelacur pulang ke rumah, engkau menyembelih anak sapi gemuk untuknya!’

31 “Anakku,” kata sang ayah, “engkau selalu bersamaku dan segala yang kumiliki adalah milikmu.

32 Tetapi kita harus merayakan dan bersukacita karena saudaramu ini telah mati dan kini hidup kembali; ia telah hilang dan kini ditemukan.” ”Inilah Firman Allah.”

 

Perumpamaan ini dikenal “perumpamaan tentang anak yang hilang,” namun sebenarnya ini adalah “perumpamaan tentang dua anak (adik dan kakak) yang hilang.”

 

Setiap pemikiran yang pernah dimiliki umat manusia tentang cara berhubungan dengan Allah, baik di Timur maupun Barat, di zaman kuno, modern maupun pascamodern, dalam setiap agama, maupun dalam semua pemikiran sekuler semuanya salah.

 

Seorang sejarawan pernah berkata bahwa Kekristenan pertama kali muncul di dunia, tidak ada yang menyebutnya sebagai agama.

l  Ia tidak dipandang sebagai agama, Ia dipandang sebagai anti-agama.

l  Selama 200 tahun, orang Romawi menyebut orang Kristen sebagai ateis!

l  Orang Romawi memahami bahwa apa yang dikatakan Kekristenan tentang Tuhan sangat berbeda dari apa yang dikatakan agama lain sehingga tidak seharusnya diberi nama yang sama; berada dalam kategori yang sama sekali berbeda.

l  Mereka benar dan bagian ini menjelaskan mengapa mereka benar.

 

Mari kita lihat perumpamaan ini dan pastikan kita memahaminya.

Bagian pertama, “Adik yang hilang” dan bagian kedua, “Kakak yang hilang.”

Bagian pertama dimulai dengan sang Adik itu mendatangi ayahnya dan berkata, “Ayah, berikanlah kepadaku bagian warisan yang menjadi hakku.”

Ketika mendengar hal ini, kita pasti sangat terkejut. Jika anda memiliki dua anak laki-laki, maka ketika anda meninggal, warisan akan dibagi, dua pertiga untuk yang sulung dan sepertiga untuk yang bungsu.

Aturan umumnya, anak sulung mendapat bagian dua kali lipat dari yang diterima anak lainnya. Jika ada dua anak, yang sulung mendapat dua pertiga, yang bungsu mendapat sepertiga. Hal itu terjadi ketika sang ayah meninggal.

 

Seorang komentator yang ahli sejarah dan budaya mengatakan “bahwa meminta warisan saat ayah masih hidup sama dengan menginginkan kematiannya.”

Anak bungsu itu berkata “aku ingin harta ayah tapi aku tidak ingin ayah. Hubunganku denganmu hanyalah sarana untuk mencapai tujuan dan aku sudah bosan. Aku ingin bagianku sekarang.” Hal ini belum pernah terjadi sebelumnya!

Komentator mengatakan bahwa seorang ayah di Timur Tengah hanya bisa merespon dengan satu cara. Dia harus mengusir anak itu dari rumah dengan kata-kata kasar atau dengan pukulan fisik dan kekerasan.

Yang tidak terduga dan membuat tercengang adalah apa yang dilakukan sang ayah  “Maka ia membagi harta miliknya di antara mereka.”

 

Dalam bahasa Yunani, tertulis “Ayah itu membagi hidupnya di antara mereka.”

Harta warisan sang ayah adalah tanahnya; kekayaannya adalah tanahnya. Ia harus menjual sepertiga tanahnya untuk memberi warisan kepada anak bungsunya.

Identitas mereka sangat terikat dengan tanah itu. Kehilangan tanah berarti kehilangan dirinya; kehilangan sebagian tanah berarti kehilangan kedudukan di masyarakat.  

Anak bungsu itu menghancurkan hidup ayahnya, posisi ayahnya di masyarakat; menghancurkan dirinya sendiri!

Apa yang dilakukan ayah ini adalah menanggung hal terburuk yang bisa ditanggung seorang manusia… ayah ini tetap mempertahankan cintanya kepada anaknya dan menanggung penderitaan akibat cinta yang ditolak.

 

Lalu si anak bungsu pergi dan menghamburkan semua yang dimilikinya. Ketika ia sangat  terpuruk, di kandang babi dan menyadari betapa bodohnya dirinya, ia merancang sebuah rencana.

Ia berkata, “aku sadar, aku telah bertindak bodoh; aku akan pulang dan mengaku dosa kepada ayahku.” Aku tidak layak lagi disebut anak-Mu; jadikanlah aku seperti salah seorang pekerja-Mu.’

Para rabi mengajarkan “bila seseorang telah melanggar norma komunitas, satu-satunya cara kembali ke komunitas bukan sekadar meminta maaf; harus melakukan ganti rugi.”

Yang dilakukan si bungsu adalah pulang dengan sebuah rencana dan berkata, “Ayah, jika Engkau bersedia menjadikan aku, salah satu pekerja upahan-Mu dan mengajarkanku suatu keahlian …aku tahu aku tidak bisa menjadi anak Ayah. Aku tahu aku tidak bisa kembali ke dalam keluarga tetapi setidaknya aku bisa melunasi hutangku, membalas sedikit atas apa yang telah kulakukan padamu.”

“...ketika sang ayah melihatnya dari jauh, ia berlari menghampiri anaknya…”

l  Para kepala keluarga di Timur Tengah tidak berlari; anaklah yang berlari. Pemuda berlari; wanita mungkin berlari tetapi bukan ayah, bukan pemilik tanah.

l  Banyak pengamat mengatakan “ayah ini tidak bertindak sebagai seorang ayah; dia bertindak seperti seorang ibu.

l  Ayah di Timur Tengah tidak bertindak seperti ini; ibu yang melakukannya.

 

Dia berlari menghampiri anaknya, menunjukkan emosi yang tidak terkendali dan menciumnya. Anak itu memaparkan rencana ganti ruginya dan berkata, “Ayah, aku punya …” Ayahnya tidak mau mendengarnya dan berkata,

l  “Ambil jubah terbaik!” Jubah terbaik itu adalah jubah sang ayah. Yang ayah maksud adalah “Aku tidak menunggu sampai kamu membersihkan diri bahkan aku tidak menunggu sampai kamu membuktikan dirimu.”

l  Ia berkata kepada para pelayannya, “Tutupi ketelanjangan dan pakaian compang-camping anakku ini dengan jubah jabatan dan kehormatanku dan

l  Kita akan berpesta. Kamu tidak perlu berjuang untuk kembali ke dalam keluarga. Aku yang akan membawamu kembali.”

 

Ketika anak sulung mendekati rumah, mendengar suara musik dan tarian, ia memanggil hambanya dan bertanya “apa yang sedang terjadi?’ “Adikmu telah pulang” jawab hamba itu dan “ayahmu menyembelih anak sapi yang gemuk.”

Pada masa itu, orang hampir tidak pernah makan daging; itu adalah hidangan istimewa. Jika ada daging berarti hidangan paling istimewa. Seluruh desa pasti hadir, itu adalah pesta yang sangat mahal.

 

Anak sulung sangat marah dan menolak untuk masuk. Maka ayahnya keluar dan membujuknya. Tetapi ia menjawab ayahnya, ‘Lihatlah! Selama bertahun-tahun ini aku telah bekerja keras untukmu dan tak pernah melanggar perintahmu. Namun, engkau tak pernah memberiku seekor kambing muda’pun agar aku bisa merayakan bersama teman-temanku. Ia tidak menyapa ayahnya, ia menghina dan mempermalukan ayahnya di depan umum dan tidak menghadiri pesta besar yang diadakan ayahnya.

Ayahnya berkata sangat lembut, “Anakku, Aku ingin kamu ikut dalam pesta ini.” “Anakku, engkau selalu bersamaku dan segala yang kumiliki adalah milikmu tetapi kita harus merayakan dan bersukacita karena saudaramu ini telah mati dan kini hidup kembali; ia telah hilang dan kini ditemukan.”

 

Yesus mengakhiri perumpamaan itu dan tidak pernah memberitahu kepada kita; akhir yang menggantung. Apa yang Yesus ingin sampaikan?

1.      Yesus mendefinisikan ulang siapa Allah

2.      Yesus mendefinisikan ulang apa itu dosa dan

3.      Yesus mendefinisikan ulang apa itu keselamatan

 

1. Yesus Mendefinisikan Ulang Siapa Allah

Banyak orang kesulitan memahami konsep bahwa Allah adalah Bapa. Namun melalui perumpamaan tersebut menunjukkan Yesus “lebih daripada siapa’pun dalam sejarah, memanggil Allah sebagai Bapa.” Setiap kali Ia memanggil Allah sebagai Bapa (kecuali satu kali), Ia tidak memanggil Bapa.

Gagasan Tuhan sebagai Bapa dalam Perjanjian Lama jarang ditemukan tetapi Yesus mengangkatnya dan Ia mendefinisikan apa yang dimaksud dengan Bapa.

 

Umumnya para ayah itu keras, menghakimi dan identik dengan kekuasaan dan kontrol. Yesus memberi kita seorang Bapa yang tidak seperti ayah mana’pun…pengorbanan-Nya, kemurahan hati-Nya, kerelaan-Nya menanggung penderitaan akibat cinta yang ditolak. Yesus berkata, “Maafkan Aku, Aku tahu banyak di antara kalian memiliki ayah seperti itu tetapi Bapa’Ku tidak seperti itu. Terlepas dari segala kuasa dan kemuliaan-Nya (Dia memiliki semua hal itu), Dia penuh kasih, Dia menderita, Dia mengasihi anda.”

 

Yesus menyatukan sifat dan atribut (kelemahlembutan dan keagungan Allah; kuasa dan kelembutan Allah), lalu berkata “Itulah Allah sebenarnya!”

Tidak ada seorang’pun yang pernah menggambarkan Allah seperti itu. Yesus mendefinisikan ulang siapa Allah.

 

2. Yesus Mendefinisikan Ulang Apa Itu Dosa

Bagian pertama (adik yang hilang), Yesus memberi gambaran tentang dosa yang sangat tradisional. Orang Farisi, orang religius, siapa’pun dapat melihat itu dan berkata, “Ya, itulah dosa!” Namun di bagian kedua (kakak yang hilang), Yesus membalikkan perspektif ketika sampai di akhir bagian kedua, yang ada adalah bahwa ada dua anak.

l  Satu sangat baik dan satu sangat buruk dan keduanya jauh dari hati sang ayah.

l  Mereka menginginkan harta sang ayah tetapi bukan sang ayah itu sendiri.

l  Mereka menggunakan sang ayah untuk mendapatkan apa yang sebenarnya mereka cintai dan mereka tidak mencintai sang ayah.

l  Mereka menggunakan sang ayah untuk mendapatkan status, kekayaan dan hal-hal lain yang mereka cintai.

 

Satunya melakukannya dengan menjadi sangat baik dan yang satu melakukan dengan menjadi sangat jahat. Keduanya tersesat!

l  Yang jahat tersesat dalam kejahatannya tetapi yang baik tersesat dalam kebaikannya.

l  Pada akhirnya, justru anak yang jahatlah yang diselamatkan sedangkan anak baik yang tersesat dan hal ini bertentangan dengan apa yang selama ini yakini.

Ketika anda melihat mengapa anak yang baik itu tersesat …dia tersesat justru karena kebaikannya. Dia berkata “Inilah alasan mengapa aku tidak menghadiri pesta ayahku; inilah alasan mengapa aku menolakmu, aku tidak pernah membangkang kepadamu.”

Dia bangga dengan kebaikannya, bukan dosanya yang menjauhkannya dari Bapa; melainkan kebenarannya.

 

Lukas 15:1-2 memberitahu bahwa ada dua kelompok orang di sekitar Yesus ketika Ia memberi perumpamaan ini: pemungut pajak dan orang berdosa serta orang Farisi dan ahli Taurat. Siapa sebenarnya kedua orang dalam perumpamaan ini.

l  Orang-orang berdosa adalah anak bungsu; mereka kabur dan hidup sesuka hati.

l  Orang-orang farisi, ahli taurat, guru agama dan orang-orang yang taat moral serta religius adalah anak sulung.

 

Ada dua dasar yang digunakan untuk memperbaiki diri sendiri dan menjalin hubungan dengan Tuhan “ketaatan moral dan penemuan jati diri.”

Dalam ketaatan moral, orang berkata “aku tidak melakukan apa yang ingin kulakukan; aku akan mentaati, aku akan tunduk, aku menjadi lebih baik, aku akan bekerja keras.”

Dalam penemuan diri, orang berkata, “aku akan memutuskan apa yang benar atau salah bagiku; aku akan melakukan apa yang ingin ku’lakukan; aku akan hidup sesuai keinginanku; aku akan menemukan jati diriku yang sesungguhnya.”

 

Yesus berkata, keduanya salah! Kalian tersesat; kalian membuat dunia menjadi tempat yang mengerikan dengan cara yang berbeda.

l  Para “anak sulung” membagi dunia menjadi dua. Mereka berkata, “Orang-orang baik ada di dalam dan orang-orang jahat ada di luar.”

l  Para “anak bungsu” penganut pencarian jati diri berkata “Orang-orang yang berpikiran terbuka dan progresif ada di dalam; orang-orang fanatik serta suka menghakimi ada di luar.”

Yesus berkata, yang masuk di dalam adalah orang yang rendah hati, orang yang tahu bahwa mereka tidak baik dan membutuhkan anugerah sedang yang di luar adalah orang yang sombong dan selalu mengira mereka berada di posisi yang benar.

 

Injil Yesus Kristus bukanlah agama atau ketidak’beragamaan; bukan pula moralitas atau amoralitas; bukan moralisme atau relativisme. Injil berada di luar skala itu; Injil tidak berada di tengah-tengah; Injil adalah sesuatu yang lain.

 

Anak bungsu menguasai harta ayah dengan hidup yang sangat buruk tetapi anak sulung menguasai harta ayah dengan hidup yang sangat baik.

l  Ada dua cara untuk menjadi penyelamat dan tuan bagi diri sendiri.

l  Ada dua cara untuk mengendalikan Tuhan, orang-orang di sekitar anda dan hidup anda sendiri.

l  Ada dua cara untuk memegang kendali: yang satu dengan pergi ke tempat yang tidak terduga dan hidup sesuka hati; yang lain menjadi sangat bermoral, religius, membaca Alkitab, menaati Sepuluh Perintah Allah dan berdoa sepanjang waktu.

 

Flannery O’Connor, dalam novelnya berkata “ada pemahaman gelap dan tak bernama di dalam dirinya bahwa cara untuk menghindari Yesus adalah dengan menghindari dosa.”

l  Dia menggambarkan sifat anak sulung. “Jika saya mencintai orang lain dan saya baik; jika saya berdoa dan membaca Alkitab, maka Tuhan pasti memberkati saya.”

l  Yesus mungkin menjadi pemberi hadiah; menjadi teladan; melakukan banyak hal tetapi Dia bukan Juruselamat anda… anda sendiri yang menjadi Juruselamat anda.

l  Anda mencoba mengendalikan Tuhan, melalui apa yang anda lakukan.

l  Semua moralitas dan ketaatan kita, hanyalah untuk membuat Tuhan memberi apa yang sebenarnya kita inginkan dan itu bukan Tuhan sendiri.

 

Orang-orang religius taat kepada Tuhan untuk mendapatkan sesuatu.

Orang-orang Injil taat kepada Tuhan untuk mendapatkan Tuhan …”untuk serupa dengan-Nya, mengasihi-Nya, mengenal-Nya dan bersukacita dalam-Nya.”

 

Kita bisa melihat anak sulung dan anak bungsu yang hilang, sama-sama mengerikan. Kehilangan anak bungsu dengan kesenangan diri dan kecanduannya membawa banyak penderitaan. Kehilangan anak sulung dengan sikap menghakimi dan kemarahannya. Dia marah karena dia telah menjalani hidup begitu baik sehingga Tuhan (Bapa) berhutang kepadanya untuk melakukan segala sesuatu sesuai keinginannya.

 

Semua berpusat pada motivasi, jika anda mencintai sang ayah, anda akan menaati-Nya.

Bagaimana motivasi dapat diubah sepenuhnya sehingga alasan kita melakukan bukanlah seperti yang anak bungsu katakan, untuk menjadi pekerja karena kewajiban tanpa sukacita atau anak sulung yang memiliki sikap menghakimi dan merasa superior, melainkan karena cinta dan rasa syukur.

 

3. Yesus Mendefinisikan Ulang Apa Itu Keselamatan

Yesus tidak hanya mendefinisikan ulang siapa Allah; tidak hanya mendefinisikan ulang apa itu dosa; Yesus juga mendefinisikan ulang apa itu keselamatan.

Ke’Kristen’an tidak dapat membagi dunia menjadi orang baik dan orang jahat.

Mode bawaan hati manusia, yang bermoral maupun tidak bermoral, religius maupun tidak religius, penemuan diri maupun kepatuhan moral adalah pembenaran diri.

Penemuan diri maupun kepatuhan moral tidak cukup untuk menyingkapkan “apa yang sebenarnya salah dengan dunia ini; dengan anda dan saya?”

 

Jadi, bagaimana kita bisa diselamatkan?

 

Pertama, kita membutuhkan kasih Bapa yang mengawali segalanya.

l  Bapa yang mendatangi kedua anak-Nya untuk membawa mereka kembali.

l  Ia mendatangi anak bungsu dan menciumnya sebelum ia bertobat. Pertobatan tidak memicu ciuman tersebut, justru ciuman itulah yang memfasilitasi pertobatan.

l  Anda tidak pernah mencari-Nya kecuali Dia terlebih dahulu mencari anda.

Dalam banyak kasus bahkan hari ini, mungkin Dia sedang mencari anda. Itulah alasan mengapa anda merasa “tidak sejahtera, tidak tenang, tidak puas, stress, depresi” saat ini.

 

Perhatikan “sang ayah keluar menemui anak sulung” ini luar biasa karena Yesus menceritakan perumpamaan ini kepada orang-orang Farisi dan Yesus tahu bahwa orang-orang religius, para pemimpin agama adalah mereka yang akan membunuh-Nya.

 

Injil juga menyinggung orang yang bermoral dan religius seperti halnya bagi orang yang tidak bermoral dan mencari jati diri, kecuali orang religius biasanya memiliki lebih banyak kekuasaan. Ia justru membuat sang ayah keluar dan memohon kepada orang Farisi untuk masuk. Ia tidak bersikap seperti orang Farisi terhadap orang Farisi. Ia tidak bersikap sok suci terhadap orang-orang yang sok suci. Ini luar biasa.

 

Kedua, anda perlu belajar bagaimana bertobat atas semua dosa.

Anak bungsu itu pulang dan memiliki banyak dosa yang harus bertobat. Hampir semua orang berkata, “Oh, itulah yang harus dilakukan; harus bertobat dari daftar dosa anda.”

Betapa radikalnya perumpamaan ini. Anak sulung itu tersesat tetapi tidak ada dosa apa’pun dalam daftarnya! Ia berkata, “aku selalu menaati-Mu” dan sang ayah tidak membantahnya. Bagaimana orang tersesat tanpa dosa dalam daftarnya, bisa diselamatkan? Tentu saja tidak ada orang yang tanpa dosa - Roma 3:23.

 

Seorang kristen bertobat atas apa yang telah mereka lakukan tetapi mereka menyadari bahwa alasan di balik hal-hal benar yang mereka lakukan’pun adalah pembenaran diri dan keinginan untuk mengendalikan Tuhan serta orang lain.

Ketika anda menyadarinya… anda mulai melihat keinginan untuk menjadi penyelamat dan tuan bagi diri sendiri, tidak hanya di balik hal buruk yang telah anda lakukan tetapi juga di balik hal baik.

Ketika anda berkata “aku harus berubah” itu mengubah segalanya; segala sesuatu dalam hidup anda berubah. Cara anda menanggapi kritik, memandang orang-orang yang berbeda dengan anda, semuanya berubah.

Cara anda hidup, berhubungan dengan Tuhan dan sesama disebut kelahiran baru karena perubahannya begitu radikal. “Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang” 2 Korintus 5:17.

 

Ketiga, anda perlu diluluhkan dan tergerak oleh apa yang harus dikorbankan untuk membawa anda pulang.

Perbedaan utama antara seorang Kristen dan seorang Farisi adalah motivasi!

l  Seorang Farisi taat kepada Tuhan untuk mendapatkan sesuatu.

l  Seorang Kristen taat kepada Tuhan untuk mendapatkan Tuhan. Karena sesuatu yang telah dilihat telah meluluhkan hatinya sehingga mereka akhirnya mencintai Bapa.

 

Kita melihat betapa besar pengorbanan yang Tuhan lakukan untuk membawa anda pulang. “Yaah,” katamu, “sepertinya tidak ada biaya apa’pun bagi-Nya. Anak itu pulang dengan keinginan untuk mengganti rugi tetapi sang ayah tidak mengizinkannya, jadi itu gratis! Tidak ada biaya apa’pun!”

Memang tidak ada biaya bagi-nya tapi itu mengorbankan banyak hal bagi orang lain. Dalam ayat terakhir, ketika sang ayah berkata, “… segala yang kumiliki adalah milikmu,” itu benar-benar nyata karena si anak bungsu telah menghabiskan seluruh warisannya. Kini setiap harta yang dimiliki sang ayah menjadi milik anak sulung.

Anak bungsu dibawa kembali ke dalam keluarga dengan biaya dan pengorbanan yang sangat besar bagi anak sulung. Ini tidak gratis! Seseorang harus membayar dan anak sulung yang membayar; dia sangat marah.

Mengapa Yesus menggambarkan sosok anak sulung yang kejam? Karena Yesus sedang menunjukkan kepada orang Farisi seperti apa rupa mereka sebenarnya.

Apa yang seharusnya dilakukan oleh anak sulung sejati?

Anak sulung sejati pasti melihat penderitaan sang ayah dan berkata, “Ayah, aku akan pergi mencari adikku dan jika dia telah menghancurkan hidupnya sendiri serta menghabiskan seluruh warisannya, aku akan membawanya pulang bahkan dengan biaya sendiri.” Itulah yang seharusnya dilakukan oleh anak sulung sejati. Kasihan anak bungsu itu! Dia tidak memiliki kakak sulung sejati tetapi anda dan saya memilikinya.

 

l  Yesus memberi kita “anak sulung yang jahat, agar kita merindukan yang sejati.”

l  Kita tidak membutuhkan anak sulung yang pergi ke kota untuk mencari kita. Kita membutuhkan seseorang yang datang dari surga ke bumi.

l  Kita tidak membutuhkan kakak sulung yang membawa kita ke dalam keluarga Allah hanya dengan mengorbankan dompetnya tetapi dengan mengorbankan nyawanya.

 

Di kayu salib, Yesus ditelanjangi agar kita dapat mengenakan jubah kehormatan yang tidak pantas kita terima.

Di kayu salib, Yesus berseru, “Allahku, Allahku,” “satu-satunya Yesus tidak memanggil-Nya Bapa” karena pada saat itu Ia tidak diperlakukan sebagai anak, agar anda dan saya dapat diperlakukan sebagai anak.

Di kayu salib, Yesus melunasi hutang yang sangat besar, kita tidak mampu bayar.

 

Ia memiliki segala yang dimiliki Bapa tetapi Ia membagikannya kepada kita dan Ia membawa kita pulang dengan pengorbanan yang sangat besar yaitu diri-Nya sendiri.

 

Ketika anda melihat hal itu, semakin anda melihatnya, hal itu akan mengubah motivasi hati dan seluruh pendekatan terhadap Allah. Anda tidak lagi terfokus pada penemuan diri dan kepatuhan moral. Anda akan menjadi orang Kristen bahkan murid Kristus.

Discussion questions:

  1. Apa yang paling berkesan bagi Anda dari khotbah ini?
  2. Kita bisa tersesat dengan cara menjadi jahat (anak bungsu) ataupun menjadi baik (anak sulung). Apa yang diajarkan hal ini kepada Anda tentang dosa, dan mana yang menjadi kecondongan Anda?
  3. Apa perbedaan utama ketaatan orang Kristen dan ketaatan orang Farisi? Yang mana yang sering menjadi motivasi ketaatan Anda?
  4. Bagaimana kebenaran Injil memampukan Anda untuk bertobat dari kejahatan dan kebaikan Anda?