Rock Church Logo

Bertobat Sebelum Terlambat

Sermon by: Edrick
30 August 2026

Lukas 13:1-9

Dosa dan penderitaan
13:1 Pada waktu itu datanglah kepada Yesus beberapa orang membawa kabar tentang
orang-orang Galilea, yang darahnya dicampurkan Pilatus dengan darah korban yang mereka
persembahkan.
13:2 Yesus menjawab mereka: "Sangkamu orang-orang Galilea ini lebih besar dosanya dari
pada dosa semua orang Galilea yang lain, karena mereka mengalami nasib itu?
13:3 Tidak! kata-Ku kepadamu. Tetapi jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa
atas cara demikian.
13:4 Atau sangkamu kedelapan belas orang, yang mati ditimpa menara dekat Siloam, lebih
besar kesalahannya dari pada kesalahan semua orang lain yang diam di Yerusalem?
13:5 Tidak! kata-Ku kepadamu. Tetapi jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa
atas cara demikian."
Perumpamaan tentang pohon ara yang tidak berbuah
13:6 Lalu Yesus mengatakan perumpamaan ini: "Seorang mempunyai pohon ara yang tumbuh
di kebun anggurnya, dan ia datang untuk mencari buah pada pohon itu, tetapi ia tidak
menemukannya.
13:7 Lalu ia berkata kepada pengurus kebun anggur itu: Sudah tiga tahun aku datang mencari
buah pada pohon ara ini dan aku tidak menemukannya. Tebanglah pohon ini! Untuk apa ia
hidup di tanah ini dengan percuma!
13:8 Jawab orang itu: Tuan, biarkanlah dia tumbuh tahun ini lagi, aku akan mencangkul tanah
sekelilingnya dan memberi pupuk kepadanya,
13:9 mungkin tahun depan ia berbuah; jika tidak, tebanglah dia!"

Sebelum masuk ke firman hari ini, saya mau bilang bahwa saya sangat diberkati dengan seri
Lukas yang sedang kita pelajari bersama. Saya sungguh bersyukur untuk seri ini karena melalui
eksposisi Injil Lukas, gereja terus dibawa untuk tetap setia kepada firman Tuhan. Ketika kita
berbicara tentang uang, itu bukan karena gereja membutuhkan uang, melainkan karena Alkitab
berbicara tentang uang. Ketika kita berbicara tentang doa, itu bukan karena itu topik favorit kita,
melainkan karena itulah yang Tuhan ingin ajarkan kepada kita. Ada sesuatu yang indah ketika
sebuah gereja membiarkan firman Tuhan menentukan apa yang harus didengar, bukan
sebaliknya.

Tetapi bagi mereka yang mendapat jadwal berkhotbah hanya setiap beberapa bulan sekali, ada
pergumulan tersendiri. Kadang kita mendapat bagian yang relatif mudah untuk dikhotbahkan,
seperti kisah lima roti dan dua ikan. Kadang juga kita mendapat bagian yang membuat kita
harus bergumul lebih lama, seperti transfigurasi atau penjelmaan Kristus. Nah, saya mendapat
Lukas 13. Dan kalau saya boleh merangkum seluruh isi pasal ini, bahkan mungkin seluruh khotbah satu setengah jam yang sedang saya sampaikan, ringkasannya hanya dua kata:
“Bertobat sekarang!” Agak keras juga untuk khotbah pertama, ya.

Dan jujur, setiap kali kita mendengar topik pertobatan, sering kali ada satu "karunia rohani" yang
tiba-tiba muncul. Karunia mengingat dosa orang lain. Tiba-tiba kita berpikir, “Wah, ini buat si
ABC nih.” Atau, “Anak saya perlu dengar ini.” Atau bahkan, “Sayang sekali suami saya tidak ikut
hari ini.” Tanpa sadar kita menjadi kurir firman Tuhan untuk orang lain. Padahal yang Tuhan
sedang tuju mungkin justru hati kita sendiri.

Dan persis itulah yang terjadi di awal Lukas 13. Orang-orang datang kepada Yesus sambil
membawa berita tentang tragedi yang menimpa orang lain. Fokus mereka tertuju kepada
kesalahan, dosa, atau nasib orang lain. Tetapi Yesus langsung membalik arah percakapan itu.
Seolah-olah Dia berkata, “Jangan bicara tentang mereka. Mari bicara tentang kamu.” Masalah
terbesar mereka bukanlah apa yang terjadi pada orang lain. Masalah terbesar mereka adalah
keadaan hati mereka sendiri di hadapan Allah.
Karena itu, hari ini saya ingin mengajak kita membuka hati dan membiarkan Tuhan berbicara
secara pribadi kepada kita. Biarlah Roh Kudus menyelidiki hati kita melalui firman-Nya. Selama
kita mendengarkan firman hari ini, mari kita terus membawa pertanyaan ini di dalam hati:
“Tuhan, apa yang sebenarnya sedang Engkau coba ubah dalam hidup saya? Apa yang masih
saya tahan-tahan padahal Engkau sudah berkali-kali meminta saya melepaskannya? Apa yang
masih saya genggam? Area mana yang Roh Kudus sedang tegur?” Sebab pertobatan selalu
dimulai ketika saya menyadari bahwa saya yang perlu berubah, saya yang perlu diperiksa, dan
saya yang perlu bertobat.

1. The Warning: Bertobatlah Sebelum Terlambat

Sebelum kita masuk lebih jauh, kita perlu sadar bahwa Lukas 13 adalah bagian yang cukup
keras. Karena Yesus bukan hanya sekali berkata, “Jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua
akan binasa.” Dia mengatakannya dua kali. Kalau jujur, mungkin reaksi kita adalah, “Wah
Yesus, agak santai sedikit dong.” Atau, “Kok keras sekali?” Tetapi masalahnya bukan karena
Yesus galak. Masalahnya karena kita sering salah memahami arti sebuah peringatan. Kita
menganggap semua warning itu negatif, padahal tidak selalu demikian.

Bayangkan ada smoke alarm yang berbunyi jam dua pagi. Sangat mengganggu. Membuat kita
kesal. Tetapi jauh lebih baik terganggu daripada terbakar. Alarm itu tidak berbunyi untuk
mengganggu kita. Alarm itu berbunyi untuk menyelamatkan kita. Masalahnya bukan pada
alarmnya. Masalahnya adalah kalau memang ada api. Demikian juga dengan peringatan
Tuhan. Warning bukan tanda bahwa Tuhan marah. Warning adalah tanda bahwa Tuhan peduli.
Tuhan memperingatkan karena Dia mengasihi. Peringatan Tuhan bukan bukti bahwa Dia
membenci kita. Peringatan Tuhan adalah bukti bahwa Dia terlalu mengasihi kita untuk
membiarkan kita terus berjalan menuju bahaya.

Lalu muncul pertanyaan: apa sebenarnya arti pertobatan? Karena banyak orang memiliki
gambaran yang salah tentang pertobatan. Kalau ditanya, “Sudah bertobat belum?” jawabannya mungkin, “Sudah, waktu datang KKR.” Tetapi apakah datang ke KKR otomatis berarti bertobat?
Bisa ya, bisa tidak. KKR tidak otomatis sama dengan pertobatan. Altar call tidak otomatis sama
dengan pertobatan. Menangis tidak otomatis sama dengan pertobatan. Tersentuh juga tidak
otomatis sama dengan pertobatan. Kadang kita menganggap pertobatan seperti sebuah
checklist: datang ke KKR, maju ke depan bersama teman-teman, angkat tangan paling tinggi,
menangis sedikit, mengucapkan doa pertobatan, lalu selesai. Padahal pertobatan tidak
sesederhana itu.
Ternyata merasa terharu tidak selalu berarti bertobat. Merasa tersentuh tidak selalu berarti
bertobat. Bahkan menangis pun belum tentu berarti bertobat. Karena pertobatan jauh lebih
dalam daripada emosi.
Ketika Yesus berkata, “Jikalau kamu tidak bertobat,” Dia menggunakan kata metanoia, yang
berbicara tentang perubahan pikiran yang menghasilkan perubahan hidup. Pertobatan berarti
berbalik arah. Bayangkan GPS berkata, “Salah arah. Putar balik.” Anda bisa mengakui bahwa
GPS benar. Anda bisa setuju bahwa Anda salah jalan. Anda bahkan bisa sedih karena tersesat.
Tetapi kalau Anda tetap melaju lurus, Anda tetap tersesat. Pertobatan terjadi ketika Anda
benar-benar memutar arah.

Sederhananya, pertobatan adalah menyadari dosa, meninggalkannya, dan kembali kepada
Tuhan. Pertobatan bukan sekadar berhenti melakukan dosa tertentu. Pertobatan adalah
berbalik dari apa pun yang selama ini menjadi pengganti Tuhan dalam hidup kita, lalu kembali
kepada Kristus. Bukan sekadar perubahan perasaan, tetapi perubahan arah hidup. Bukan
sekadar perubahan emosi, tetapi perubahan hati. Karena yang Tuhan cari bukan sekadar kaki
yang maju ke depan saat altar call. Yang Tuhan cari adalah hati yang berbalik kepada-Nya.
Yang Tuhan cari bukan sekadar air mata. Yang Tuhan cari adalah perubahan arah hidup.

Sering kali kita berpikir pertobatan hanya berarti berhenti marah, berhenti berbohong, atau
berhenti melakukan dosa tertentu. Memang itu bagian dari pertobatan. Tetapi pertobatan jauh
lebih dalam daripada perbaikan perilaku. Masalah terbesar kita bukan hanya apa yang kita
lakukan, melainkan apa yang kita cintai dan percayai lebih daripada Tuhan. Seseorang bisa
berhenti bermain game, berhenti melihat pornografi, atau memutus akses internet sekalipun.
Tetapi pertanyaan yang lebih penting adalah: apakah hatinya sudah kembali kepada Tuhan?
Karena seseorang bisa berhenti melakukan dosa tertentu namun tetap tidak kembali kepada
Kristus.
Hal ini membawa kita kepada pertanyaan yang lebih dalam: apa sebenarnya akar dosa?
Misalnya seseorang mudah marah. Masalahnya belum tentu kemarahannya. Di bawah
kemarahan itu mungkin ada keinginan mengontrol, ego yang terluka, kebutuhan untuk
dihormati, atau keinginan selalu benar. Atau seseorang sangat takut kehilangan pekerjaan atau
bisnisnya. Mungkin masalah utamanya bukan kehilangan pekerjaan itu sendiri. Mungkin
pekerjaannya telah menjadi sumber keamanan dan identitas hidupnya. Dengan kata lain, sering
kali ada sesuatu yang duduk di takhta hati kita selain Tuhan.
Karena itu, pertobatan bukan hanya mengubah perilaku di luar. Pertobatan menyentuh siapa
yang sebenarnya menjadi raja dalam hidup kita.

Di sinilah kita melihat perbedaan besar antara penyesalan dan pertobatan. Penyesalan belum
tentu pertobatan. Banyak orang menyesal. Orang yang masuk penjara menyesal. Orang yang
ketahuan selingkuh menyesal. Bahkan orang yang sedang menghadapi hukuman berat sering
kali menyesal. Tetapi tidak semua orang yang menyesal bertobat.
Penyesalan biasanya berpusat pada diri sendiri. Fokusnya adalah, “Saya malu. Saya gagal.
Saya ketahuan. Nama saya rusak.” Semua berpusat pada “saya.” Tetapi pertobatan berpusat
pada Tuhan. Pertobatan berkata, “Tuhan, saya telah berdosa terhadap-Mu. Tuhan, saya
membutuhkan kasih karunia-Mu. Tuhan, saya membutuhkan Engkau.” Penyesalan sedih
karena konsekuensi. Pertobatan sedih karena telah melukai hati Tuhan. Penyesalan ingin lari
dari hukuman. Pertobatan ingin kembali kepada Tuhan.

Jadi kalau disederhanakan, pertobatan bukan terutama soal meninggalkan sesuatu. Pertobatan
adalah kembali kepada Seseorang.
Karena tidak ada seorang pun yang dijanjikan hari esok, Yesus memberikan peringatan yang
begitu serius. Kasih yang sejati selalu memperingatkan sebelum terlambat. Dan bayangkan
kalau Lukas 13 berhenti di ayat 5. Kita semua akan pulang dengan hati yang berat. Kita akan
sadar bahwa kita berdosa, gagal, dan perlu bertobat. Tetapi lalu muncul pertanyaan: apakah
masih ada harapan bagi saya? Dan kabar baiknya, Yesus tidak berhenti pada peringatan.
Setelah berbicara tentang pertobatan, Dia langsung menceritakan sebuah pohon yang tidak
berbuah.

2. The Grace: Kristus Membela Pohon yang Tidak Berbuah

Setelah berbicara tentang pertobatan, Yesus menceritakan sebuah perumpamaan tentang
pohon yang tidak berbuah. Bukan tentang pohon yang sukses. Bukan tentang pohon yang luar
biasa produktif. Justru tentang pohon yang gagal menghasilkan apa yang seharusnya
dihasilkan. Dan kalau kita jujur, pohon itu adalah gambaran kita.
Karena siapa di antara kita yang bisa berkata bahwa kita selalu setia, selalu taat, dan tidak
pernah gagal? Tidak ada. Kita semua pernah jatuh. Kita semua pernah melanggar janji kepada
Tuhan. Kita semua pernah tahu apa yang benar lalu memilih jalan kita sendiri.

Karena itu, ketika membaca perumpamaan ini, kita seharusnya melihat diri kita sendiri di dalam
pohon tersebut. Lalu pertanyaannya adalah: apa yang Tuhan lakukan terhadap pohon yang
tidak berbuah itu? Apakah langsung ditebang? Apakah langsung dibuang?
Yang mengejutkan adalah tidak.

Ketika pemilik kebun berkata, “Tebang saja,” seorang penjaga kebun melangkah maju dan
berkata, “Tunggu dulu. Biarkan dia satu tahun lagi. Biar saya yang mengurusnya.” Dan di sinilah
kita mulai melihat gambaran Yesus. Yesus bukan hanya menunjukkan dosa kita. Yesus juga
menunjukkan kasih karunia-Nya. Dia bukan hanya berkata, “Kamu perlu bertobat.” Dia juga
berkata, “Aku belum menyerah atas hidupmu.”
Kalau jujur, saya bisa mengerti perasaan pemilik kebun itu. Saya harus mengaku sesuatu: saya
agak coffee snob. Mesin kopi ada, grinder ada, timbangan ada, alat seduh ada, bahkan saya bekerja di industri kopi. Jadi waktu seorang teman memberi saya pohon kopi, saya sangat
senang. Saya rawat. Saya pupuk. Saya tunggu.

Katanya pohon kopi bisa membutuhkan enam tahun untuk berbuah. Oke, saya tunggu. Tahun
pertama belum ada buah. Tahun kedua belum ada. Tahun ketiga masih sabar. Tahun keempat
masih berharap. Tahun kelima mulai curiga. Tahun keenam akhirnya muncul buah. Saya sangat
excited. Lalu saya hitung. Satu. Dua. Tiga. Empat. Empat buah saja.
Enam tahun menunggu. Empat buah.
Dan rasanya juga biasa saja.

Akhirnya saya melihat pohon itu dan berkata, “Kamu serius? Enam tahun saya tunggu. Enam
tahun saya rawat.” Dan tahu apa yang saya lakukan? Saya buang. Tidak ada rapat keluarga.
Tidak ada kesempatan tambahan. Dalam pikiran saya, pohon kopi harus menghasilkan kopi.
Kalau tidak menghasilkan apa yang seharusnya dihasilkan, buat apa dipelihara?

Karena itu Lukas 13 begitu indah. Kalau saya menjadi pemilik kebun itu, saya akan setuju
dengan keputusan menebangnya. Itu masuk akal. Logis. Adil. Tetapi penjaga kebun berkata,
“Tunggu dulu.”

Di situlah saya sadar bahwa kita tidak akan pernah benar-benar kagum kepada kasih karunia
sampai kita mengerti siapa diri kita. Selama kita masih berpikir, “Saya lumayan baik kok,” atau,
“Saya tidak separah orang lain,” kita tidak akan melihat keindahan kalimat, “Biarkan dia satu
tahun lagi.”
Tetapi saat kita jujur dan berkata, “Saya sering gagal. Saya sering jatuh. Saya sering melawan
Tuhan. Saya sebenarnya layak ditebang,” maka kata-kata itu menjadi sangat indah.

Bukankah itu cerita hidup kita? Berapa kali kita berkata, “Tuhan, kali ini saya
sungguh-sungguh,” lalu gagal lagi? Berapa kali kita bertobat lalu jatuh lagi? Kalau Tuhan
memperlakukan kita berdasarkan performa kita, mungkin kita sudah lama dibuang. Tetapi Lukas
13 menunjukkan bahwa ada Sang Penjaga Kebun yang berkata, “Kasih dia waktu lagi. Aku
belum selesai bekerja dalam hidupnya. Aku belum menyerah atas dia.”

Kalimat “biarkan dia satu tahun lagi” adalah gambaran kesabaran Tuhan. Pohon itu layak
ditebang, tetapi diberi kesempatan lagi. Bukan karena pohon itu hebat, melainkan karena ada
seseorang yang membelanya. Dan itulah kita. Kalau hari ini kita masih hidup, masih bisa
mendengar firman Tuhan, dan masih bisa merasakan teguran Roh Kudus, itu bukan karena kita
pantas. Itu karena Kristus masih berkata, “Bapa, berikan dia kesempatan lagi.” Setiap napas
adalah anugerah. Setiap hari adalah belas kasihan. Setiap pagi adalah bukti bahwa Sang
Penjaga Kebun belum menyerah.

Tetapi jangan salah paham. “Satu tahun lagi” bukan izin untuk tetap berdosa. “Satu tahun lagi”
adalah kesempatan untuk bertobat. Kesabaran Tuhan bukan persetujuan Tuhan terhadap dosa.
Kesabaran Tuhan adalah undangan untuk kembali kepada-Nya.

Dan yang menarik, Alkitab hampir tidak pernah berkata, “Bertobatlah nanti.” Alkitab selalu
berkata, “Hari ini.” “Sekarang.” Tetapi kita sering memperlakukan pertobatan seperti diet.
“Tuhan, nanti ya. Setelah bisnis stabil. Setelah ujian selesai. Setelah anak besar. Setelah
pensiun.” Masalahnya, dosa selalu berkata, “Nanti.” Tetapi Yesus selalu berkata, “Sekarang.”
Karena pertobatan yang terus ditunda biasanya menjadi pertobatan yang tidak pernah terjadi.
Mungkin hari ini Roh Kudus sedang menegur sesuatu dalam hidup kita. Mungkin ada dosa yang
disimpan. Mungkin ada kepahitan yang belum dilepaskan. Mungkin ada hubungan yang perlu
dibereskan. Jangan berkata, “Nanti.” Karena Yesus berkata, “Hari ini.”

3. The Fruit: Anugerah Menghasilkan Apa yang Tuhan Kehendaki

Kalau Yesus begitu sabar dan tidak menyerah kepada kita, apakah itu berarti kita bisa tetap
sama saja? Tidak. Karena tujuan Sang Penjaga Kebun bukan sekadar supaya pohonnya tetap
hidup. Tujuannya supaya pohonnya berbuah.
Lukas 13:9 menunjukkan tujuan akhir dari kesempatan yang Tuhan berikan. Bukan sekadar
hidup. Bukan sekadar bertahan. Bukan sekadar kelihatan rohani. Tetapi menghasilkan buah.
Bayangkan sebuah pohon apel. Apakah setiap pagi pohon itu bangun lalu berkata, “Hari ini
saya harus menghasilkan apel. Saya harus berusaha lebih keras.” Tentu tidak. Pohon yang
sehat menghasilkan buah secara alami. Mengapa? Karena kehidupannya di dalam, yaitu
akarnya, menghasilkan buah di luar.
Di sinilah kehidupan Kristen berbeda dari sekadar proyek memperbaiki diri. Kekristenan bukan
terutama tentang usaha manusia. Kekristenan adalah hidup yang diubahkan oleh kasih karunia
Tuhan.

Lalu muncul pertanyaan: apakah setelah bertobat kita tidak akan berdosa lagi? Jawabannya
adalah tidak. Orang Kristen masih bergumul. Masih jatuh. Masih gagal. Tetapi ada satu
perbedaan besar. Perbedaannya terletak pada hubungan kita dengan dosa tersebut.

Ada perbedaan antara hidup dalam dosa dan bergumul melawan dosa. Orang yang hidup
dalam dosa berkata, “Saya tahu ini salah dan saya tidak peduli. Saya akan tetap
melakukannya.” Dia tidak mau berubah. Bahkan membela dosanya. Ketika ditegur, dia berkata,
“Memangnya kenapa? Ini hidup saya.”
Sebaliknya, orang yang bergumul melawan dosa mungkin masih jatuh. Tetapi setiap kali jatuh,
hatinya sedih. Dia datang kepada Tuhan. Dia bangkit lagi. Dia bertobat lagi. Dia terus berperang
melawan dosanya. Dia tidak nyaman dengan dosanya. Dia membenci dosanya dan ingin bebas
darinya.

Keduanya sama-sama jatuh. Tetapi sikap hati mereka sangat berbeda.

Lalu bagaimana perubahan yang sejati itu bisa terjadi? Jawabannya adalah Injil.

Sering kali kita tahu apa yang salah. Kita tahu apa yang harus dilepaskan. Kita tahu area hidup
yang Tuhan sedang tegur. Tetapi kita tetap menahannya. Jadi apa yang mendorong seseorang
untuk sungguh-sungguh bertobat?

Saya percaya jawabannya terlihat jelas dalam Lukas 15. Anak yang hilang meninggalkan
bapanya, menyia-nyiakan hidupnya, dan akhirnya hidupnya hancur. Ketika dia memutuskan
pulang, saya yakin perjalanan pulang itu tidak mudah. Mungkin dia takut, malu, dan
bertanya-tanya apakah bapanya masih mau menerimanya.

Tetapi bagian yang paling indah adalah ketika Alkitab berkata, “Ketika ia masih jauh, ayahnya
telah melihat dia.”
Masih jauh.
Belum sampai rumah.
Belum membuktikan apa-apa.
Belum memperbaiki hidupnya.
Tetapi bapanya sudah melihatnya, berlari menghampirinya, merangkulnya, dan menerimanya.

Bukankah itu Injil?
Kuasa terbesar yang membawa seseorang kepada pertobatan bukanlah rasa takut, melainkan
kesadaran akan kasih Allah. Ketika kita melihat betapa besar kasih-Nya, hati kita mulai luluh.
Ketika kita melihat betapa baik-Nya Dia, kita ingin kembali kepada-Nya.
Dan cerita itu sebenarnya menunjuk kepada sesuatu yang lebih besar. Ketika kita masih jauh,
Allah sudah melihat kita. Ketika kita masih tersesat, Dia tidak menunggu kita membereskan
hidup kita terlebih dahulu. Dia datang kepada kita di dalam Yesus Kristus. Dia turun dari surga,
mencari kita, menyelamatkan kita, dan pergi sampai ke kayu salib untuk menanggung dosa kita.
Mengapa?
Karena Dia ingin menunjukkan betapa besar kasih-Nya kepada kita.
Karena itu, bertobatlah. Bukan hanya karena dosa itu berbahaya. Bukan hanya karena kita
takut akan konsekuensinya. Tetapi karena kasih Allah jauh lebih besar daripada yang pernah
kita bayangkan. Ketika kita datang kepada-Nya, kita menemukan bahwa Dia sudah lebih dahulu
datang mencari kita.

Penutup: Hari Ini, Apa yang Tuhan Minta Engkau Lepaskan?

Sebelum kita menutup firman Tuhan hari ini, saya ingin mengajak kita berhenti sejenak. Jangan
pikirkan pasangan kita. Jangan pikirkan anak kita. Jangan pikirkan teman kita. Jangan pikirkan
orang yang menurut kita seharusnya mendengar khotbah ini.
Pikirkan hati kita sendiri.

Karena sepanjang Lukas 13, Yesus terus membawa kita kembali kepada pertanyaan yang
sama:
Apa yang Tuhan minta saya lepaskan?
Apa yang masih saya genggam?
Area mana yang Roh Kudus sedang tegur?
Mungkin itu dosa yang disembunyikan. Mungkin itu kepahitan yang belum dilepaskan. Mungkin
itu kesombongan. Mungkin itu keinginan untuk terus memegang kendali atas hidup kita sendiri.
Mungkin itu area yang selama ini Roh Kudus terus tegur tetapi kita terus tunda.

Hari ini Tuhan mengundang kita untuk bertobat.
Hari ini Tuhan mengundang kita untuk kembali kepada-Nya.
Karena itu, jika hari ini Yesus sedang mengetuk pintu hati kita, jangan berkata, “Nanti.”
Katakanlah:

“Tuhan, saya berhenti lari.Tuhan, saya berhenti melawan.Tuhan, saya menyerahkan apa yang
selama ini saya genggam.Tuhan, saya bertobat.Tuhan, saya percaya kepada Injil."

Discussion questions:

  1. Apa yang paling berkesan bagi Anda dari khotbah ini?
  2. Mengapa menyesal dan bertobat adalah dua hal yang mirip tetapi berbeda? Berikan contoh pribadi dari kehidupan Anda.
  3. Apa hubungannya antara kejujuran tentang keadaan diri kita sendiri dan kasih karunia? Mengapa ini sangat penting?
  4. Hal apa yang Anda mudah sekali pegang erat-erat dalam hidup Anda, dan bagaimana Injil memampukan Anda untuk melepaskan genggaman Anda?