Firman Dan Kerajaan
Pernahkah Anda berada dalam suatu momen, mungkin di gereja pada suatu Minggu pagi, di retret gereja, saat membaca Alkitab sendirian di pagi hari, atau saat mendengarkan podcast, di mana sesuatu yang benar menyentuh Anda dengan kuat?
Anda pikir:
“Ini dia. Inilah yang perlu aku dengar. Ini akan mengubahku.”
Dan ternyata tidak.
Dalam waktu seminggu, bahkan kadang hanya beberapa hari, Anda kembali menjadi orang yang persis sama seperti sebelumnya.
Pola hidup yang sama.
Ketakutan yang sama.
Kompromi-kompromi yang sama yang sudah lama ingin Anda benahi.
Siapa pun yang pernah mencoba untuk berubah, atau memulai kebiasaan baru, tahu bahwa ini bukan sekadar teori.
Padahal Anda tahu, apa yang Anda alami itu real, dan apa yang Anda rasakan itu tulus.
Tapi pertanyaannya adalah: Mengapa kamu tidak berubah?
Dan sebagian dari Anda bahkan mulai kecewa dengan diri sendiri.
Konteks Budaya
Kita hidup di zaman di mana setiap kita memiliki akses yang banyak akan kebenaran, sangat banyak pengajaran, banyak konten rohani, lebih daripada generasi-generasi sebelumnya.
Podcast.
Buku-buku.
Khotbah dari seluruh dunia yang bisa kita akses kapan saja.
Bayangkan, seluruh Alkitab, Firman Tuhan, ada di HP-mu, di kantongmu!
Dengan segala ukuran, kita adalah orang-orang yang paling kaya secara informasi yang pernah ada, namun:
- Kita tidak lebih bijaksana.
- Kita tidak lebih sehat.
- Kita tidak lebih mengasihi Tuhan.
Pertanyaan yang perlu kita ajukan adalah:
Mengapa pendengaran kita tidak menghasilkan transformasi?
Adakah cara untuk mendengar yang benar-benar mengubah hidup?
Adakah kondisi hati yang membuat firman Tuhan bukan hanya sekadar informasi, tetapi benar-benar, secara mendalam mengubah hidup?
Dua ribu tahun yang lalu, di tepi sebuah danau, Yesus menceritakan sebuah perumpamaan yang menjawab tepat pertanyaan itu.
Mari kita baca perumpamaan ini.
Lukas 8:4–15 (TB)
4 Ketika orang banyak berbondong-bondong datang, yaitu orang-orang yang dari kota ke kota menggabungkan diri pada Yesus, berkatalah Ia dalam suatu perumpamaan:
5 “Adalah seorang penabur keluar untuk menaburkan benihnya. Pada waktu ia menabur, sebagian benih itu jatuh di pinggir jalan, lalu diinjak orang dan burung-burung di udara memakannya sampai habis.
6 Sebagian jatuh di tanah yang berbatu-batu, dan setelah tumbuh ia menjadi kering karena tidak mendapat air.
7 Sebagian lagi jatuh di tengah semak duri, dan semak itu tumbuh bersama-sama dan menghimpitnya sampai mati.
8 Dan sebagian jatuh di tanah yang baik, dan setelah tumbuh berbuah seratus kali lipat.”
Setelah berkata demikian Yesus berseru: “Siapa mempunyai telinga untuk mendengar, hendaklah ia mendengar!”
9 Murid-murid-Nya bertanya kepada-Nya, apa maksud perumpamaan itu.
10 Lalu Ia menjawab: “Kepadamu diberi karunia untuk mengetahui rahasia Kerajaan Allah, tetapi kepada orang-orang lain hal itu diberitakan dalam perumpamaan, supaya sekalipun memandang, mereka tidak melihat dan sekalipun mendengar, mereka tidak mengerti.
11 Inilah arti perumpamaan itu: Benih itu ialah firman Allah.
12 Yang jatuh di pinggir jalan itu ialah orang yang telah mendengarnya; kemudian datanglah Iblis lalu mengambil firman itu dari dalam hati mereka, supaya mereka jangan percaya dan diselamatkan.
13 Yang jatuh di tanah yang berbatu-batu itu ialah orang, yang setelah mendengar firman itu, menerimanya dengan gembira, tetapi mereka itu tidak berakar, mereka percaya sebentar saja dan dalam masa pencobaan mereka murtad.
14 Yang jatuh dalam semak duri ialah orang yang telah mendengar firman itu, dan dalam pertumbuhan selanjutnya mereka terhimpit oleh kekuatiran dan kekayaan dan kenikmatan hidup, sehingga mereka tidak menghasilkan buah yang matang.
15 Yang jatuh di tanah yang baik itu ialah orang, yang setelah mendengar firman itu, menyimpannya dalam hati yang baik dan mengeluarkan buah dalam ketekunan.”
Apakah Anda memperhatikan apa yang Yesus katakan tentang benih yang ditabur itu?
- Yesus menjelaskan dengan gamblang bahwa benih itu adalah firman Allah. Ayat 11.
- Dan Kerajaan Allah masuk ke dunia dan berkembang melalui firman-Nya.
- Yesus berkata: “Siapa mempunyai telinga untuk mendengar, hendaklah ia mendengar!”
Artinya, bukan hanya sekadar mendengar, tetapi bagaimana kita mendengar itu sangat penting.
Kerajaan Allah tidak berkembang melalui kekuasaan atau kekuatan, melainkan melalui firman Allah yang didengar dengan hati yang sungguh-sungguh berserah kepada-Nya.
Itulah yang dibicarakan perumpamaan ini: yaitu tentang Firman dan Kerajaan.
Pagi ini kita akan menelusurinya dalam tiga gerakan.
- Diterima melalui Firman.
- Disingkapkan oleh Firman.
- Diubah oleh Firman.
Diterima. Disingkapkan. Diubah.
1. Diterima melalui Firman
Yesus baru saja mengatakan sesuatu yang luar biasa:
Kerajaan Allah datang melalui firman.
Mengapa ini luar biasa?
Sebab ini adalah cara yang sangat aneh untuk membangun sebuah kerajaan.
Coba Anda pikirkan, setiap kerajaan, setiap pemerintahan yang Anda tahu. Bagaimana mereka bekerja? Bagaimana mereka membangun diri?
- Melalui kekuatan.
- Melalui peraturan-peraturan.
Namun Kerajaan Allah datang dan berkembang bukan melalui kekuasaan, bukan melalui uang, melainkan melalui sebuah firman.
Sebuah kebenaran yang didengar dan diterima.
Sabuk Pengaman
Ketika Australia memperkenalkan undang-undang sabuk pengaman pada tahun 1970, pemerintah tidak menunggu setiap pengemudi kendaraan untuk percaya dan yakin bahwa sabuk pengaman itu berguna bagi mereka.
Seatbelt itu langsung dibuat hukum.
Dan ternyata berhasil. Dalam tahun pertama, angka kematian di jalan mengalami penurunan dua digit.
Peraturan seatbelt ini berhasil dipatuhi bukan karena semua orang percaya dan setuju, tetapi karena orang-orang takut dengan hukumannya.
Begitulah cara otoritas manusia bekerja.
Tidak membutuhkan hatimu.
Hanya membutuhkan kepatuhanmu.
Apa yang Yesus ajarkan di sini tidak seperti yang pernah dunia dengar sebelumnya.
Sangat radikal!
Yesus berkata: Kerajaan Allah datang seperti sebuah benih.
Benih
Coba pikirkan: Apa yang dilakukan oleh sebuah benih?
Sebuah benih tidak memaksakan dirinya masuk ke dalam tanah. Tidak bisa.
Sebuah benih hanya bisa tumbuh jika masuk ke dalam tanah.
Dan setelah masuk ke tanah, benih tidak langsung menghasilkan buah.
Benih akan tumbuh perlahan-lahan dari dalam ke luar.
Anda tidak bisa melihat pertumbuhannya ketika tertanam.
Namun seiring waktu, pelan-pelan, sebuah benih akan mengubah seluruh ladang.
Ini bukan kelemahan.
Ini adalah kekuatan.
Tapi kekuatan yang sama sekali berbeda.
Dan perumpamaan ini memberitahu kita sesuatu yang mendalam tentang apa yang Allah inginkan:
Tuhan tidak sedang membangun kerajaan orang-orang yang patuh karena harus, dan tidak punya pilihan lain.
Dalam Yohanes 15:15, Yesus berkata kepada murid-murid-Nya:
“Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu, apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat.”
Hamba taat karena harus.
Sahabat taat karena mau.
Itulah yang Allah mau.
Dan Anda tidak bisa membangun itu dengan kekuatan.
Anda hanya bisa membangunnya melalui firman yang diterima ke dalam hati yang mau.
Ini berarti Kerajaan Allah bisa sangat mudah terlewatkan.
Ketika pemerintah menaikkan pajak, Anda tidak punya pilihan.
Tapi tidak demikian dengan Kerajaan Allah.
Yesus mengatakan bahwa Kerajaan Allah hanya berkembang melalui pendengaran.
Jadi, sangat mungkin berada di gereja ketika firman dikhotbahkan, mengangguk setuju, merasakan sesuatu, bahkan sangat emosional, namun pulang ke rumah tanpa perubahan.
Sekarang pertimbangkan ini.
Anda duduk mendengarkan khotbah yang baik dan alkitabiah.
Anda membaca Alkitab.
Anda mengisi buku catatan Anda.
Namun jika kita benar-benar jujur, kita tidak yakin kalau kita banyak mengalami perubahan.
Mengapa?
Yesus berkata: “Siapa mempunyai telinga untuk mendengar, hendaklah ia mendengar.”
Artinya:
Ada jenis pendengaran yang melaluinya Kerajaan Allah berkembang, dan ada jenis pendengaran yang tidak.
Apakah Anda memperhatikan dalam perumpamaan itu?
- Benih yang sama ditabur keempat macam tanah.
- Sang penabur menaburkannya dengan murah hati dan tanpa diskriminasi.
- Tapi perbedaannya, seperti yang akan kita lihat, ada pada tanahnya.
Jadi, pertanyaannya bukan hanya:
Apakah Anda mendengar Firman Allah, tapi bagaimana Anda mendengarnya?
2. Disingkapkan oleh Firman
Dalam perumpamaan ini, Yesus memberi kita empat gambaran:
- Empat jenis tanah.
- Empat kondisi hati.
Ini adalah empat cermin.
- Jangan angkat cermin itu ke orang di sampingmu.
- Angkat cermin ini kepada diri Anda sendiri.
Mengapa?
Karena Yesus tidak sedang menggambarkan empat tipe orang lain.
Ia menggambarkan empat cara bagaimana kita bisa mendengar firman Allah dan pergi tanpa mengalami perubahan.
Yesus mulai dengan sebuah peringatan.
Dalam ayat 10, Yesus berkata kepada murid-murid:
“Kepadamu diberi karunia untuk mengetahui rahasia Kerajaan Allah, tetapi kepada orang-orang lain hal itu diberikan dalam perumpamaan, supaya sekalipun memandang, mereka tidak melihat dan sekalipun mendengar, mereka tidak mengerti.”
Artinya sangat mungkin Anda di gereja, minggu demi minggu, tahun demi tahun, merasa ada dalam kerajaan.
Namun pada kenyataannya, benih, Firman Allah, tidak masuk ke dalam, dan benar-benar berakar.
Yesus tidak mengatakan ini untuk menakut-nakuti kita.
Ia mengatakannya karena Ia terlalu mengasihi kita untuk membiarkan kita nyaman dengan kekristenan yang hanya ada di permukaan.
Jadi, ada empat jenis tanah.
Tanah 1: Tanah yang Keras
“Yang jatuh di pinggir jalan itu ialah orang yang telah mendengarnya, kemudian datanglah Iblis lalu mengambil firman itu dari dalam hati mereka, supaya mereka jangan percaya dan diselamatkan.”
Lukas 8:12
Tanah pertama yang menerima benih adalah pinggiran jalan, tanah yang keras.
Pinggiran jalan menjadi keras karena sudah terlalu sering diinjak sehingga permukaannya memadat.
Benih jatuh, tapi tidak bisa masuk.
Benih hanya tergeletak di permukaan sampai burung-burung datang dan mengambilnya.
Begini tampaknya pada diri seseorang.
Ini adalah seseorang yang bagi mereka kekristenan hanya penuh dengan teori.
Mereka tahu isinya.
Mereka tahu Injil di kepala mereka.
Mereka bisa mengikuti logikanya.
Mereka dapat menikmati khotbah yang bagus seperti menikmati ceramah yang bagus.
Tapi apa yang didengar tidak pernah menjadi personal.
Izinkan saya bertanya:
Pernahkah Anda mengalami ketika firman Allah disampaikan terasa seperti sedang menegur Anda secara pribadi?
Bukan hanya kebenaran Firman untuk orang-orang pada umumnya.
Tapi sebuah firman yang spesifik, mendarat di tempat yang spesifik dalam hatimu.
Pernah?
Jika belum, itu berarti firman hanya sampai di kepala, namun belum tembus ke hati.
Konteks Budaya
Kita hidup di zaman yang melatih kita menjadi konsumen yang luar biasa.
Kita dapat mengonsumsi konten dalam jumlah besar dengan mudah.
Kita mendengarkan podcast senantiasa.
Khotbah kita dengar saat mengendarai mobil.
Kita sangat mahir dalam mengonsumsi.
Kita sangat buruk dalam berubah.
Tanah yang keras tidak menolak Injil.
Mereka tidak agresif.
Mereka hanya senang menerima informasi tanpa transformasi.
Pertanyaannya bukan:
Apakah kamu tahu Injil?
Pertanyaannya adalah:
Apakah Injil telah mencengkeram hatimu?
Tanah 2: Tanah yang Berbatu
“Yang jatuh di tanah yang berbatu-batu itu ialah orang, yang setelah mendengar firman itu, menerimanya dengan gembira, tetapi mereka itu tidak berakar, mereka percaya sebentar saja dan dalam masa pencobaan mereka murtad.”
Lukas 8:13
Kita perlu berhati-hati di sini.
Karena di atas permukaan, orang dengan tanah yang berbatu terlihat seperti orang yang paling hidup dan bergairah.
Tidak hanya mereka menerima firman Allah, mereka menerimanya dengan sukacita.
Mereka aktif.
Mereka tidak dingin atau teoretis seperti tanah yang keras.
Namun Yesus menyebut ini tanah yang berbatu, artinya dangkal.
Inilah alasannya.
Ketika pencobaan datang, mereka lari.
Ketika terik panas datang dan membakar yang berharga bagi mereka:
- Mereka akan hancur.
- Mereka menjadi pahit.
- Mereka menyalahkan Tuhan.
Anda mungkin datang mencari Tuhan ketika mengalami masalah hidup.
- Sebuah hubungan hancur.
- Masalah kesehatan.
- Kesulitan keuangan.
Anda datang kepada Yesus dengan kebutuhan dan dalam segala keputusasaan.
- Anda ada di gereja.
- Anda berdoa dan berpuasa.
- Anda membaca Alkitab.
Anda sungguh-sungguh tergerak hatinya.
Tapi kemudian keadaan Anda membaik.
Dan perlahan-lahan, Anda mulai kurang aktif, dan akhirnya menghilang.
Orang dengan tanah yang berbatu menginginkan solusi, bukan Saviour, bukan Juruselamat.
- Mereka datang kepada Yesus agar Yesus menyelesaikan masalah mereka.
- Mereka ingin Yesus masuk ke dalam kerajaan mereka.
Konteks Budaya
Budaya kita menjual suasana, experience.
- Konser, retreat, festival, acara imersif.
- Bahkan ada gereja yang mencoba untuk bersaing, mencoba menarik orang dengan menawarkan experience dalam kebaktian.
Orang dengan senang hati menghabiskan banyak uang untuk merasakan sesuatu, walau hanya beberapa jam.
Dan perasaan-perasaan itu nyata.
Tapi tidak bertahan lama.
Bisnis seperti ini sangat menguntungkan, sebab perasaan yang dialami lewat suasana itu pasti akan memudar, sehingga Anda akan kembali lagi untuk merasakan itu lagi.
Inilah sikap orang dengan tanah yang berbatu dalam hubungannya dengan Tuhan.
- Mereka datang untuk mengalami suasana emosional yang menyentuh.
- Suasana pujian yang membuat mereka menangis.
- Khotbah yang memotivasi mereka.
Mengapa Anda hadir hari ini?
Apakah Anda hadir karena mengejar berkat-Nya, atau apakah Anda hadir karena hidupmu milik Yesus?
Menjadi milik Yesus berarti Anda akan tetap tinggal ketika perasaan atau suasana itu hilang.
Anda tetap tinggal ketika pencobaan dan masalah datang.
Anda tetap tinggal bukan karena mudah dan enak, tapi karena Dia adalah sang Raja dan Anda tahu Anda adalah milik-Nya.
Tanah 3: Tanah yang Berduri
“Yang jatuh dalam semak duri ialah orang yang telah mendengar firman itu, dan dalam pertumbuhan selanjutnya mereka terhimpit oleh kekuatiran dan kekayaan dan kenikmatan hidup, sehingga buah mereka tidak matang.”
Lukas 8:14
Ini adalah tanah yang paling tidak nyaman.
Ini yang paling sulit untuk didiagnosis.
Orang dengan tanah yang keras tidak pernah benar-benar terlibat.
Orang dengan tanah yang berbatu pada akhirnya akan menghilang.
Mereka bukan orang Kristen.
Tapi orang dengan tanah yang berduri:
- Mereka adalah orang percaya.
- Mereka ada di gereja.
- Mereka berkomitmen.
- Mereka mengasihi Yesus.
Mereka tidak akan pergi ke mana-mana.
Namun buah mereka tidak matang. Ayat 14.
Karena mereka terhimpit oleh duri-duri.
Apakah duri-duri ini?
Ini bukan penderitaan, bukan penganiayaan, bukan pencobaan.
Yesus menjelaskan duri-duri itu adalah: “kekuatiran dan kekayaan dan kenikmatan hidup.” Ayat 14.
Yesus tidak sedang berbicara tentang orang-orang yang hidup dalam pemberontakan secara terang-terangan.
1. Mereka adalah orang yang khawatir dengan kehidupan.
- Mereka gelisah dalam hal finansial.
- Akan anak-anak mereka.
- Akan masa depan mereka.
2. Mereka mencari kekayaan.
Dalam hidup mereka, mereka selalu mengejar sesuatu:
- Kenaikan gaji.
- Properti.
- Bisnis.
Mereka berpikir: Jika saya memilikinya, saya akhirnya akan puas.
3. Kenikmatan hidup.
Bukan soal kemewahan.
Hanya mencari kehidupan yang nyaman.
Akhir pekan yang dipenuhi kenyamanan hidup, tapi tidak pernah memberikan ruang bagi Injil untuk masuk lebih dalam, menembus hati mereka.
Mereka hidup dalam dua kerajaan.
- Mereka hidup dalam Kerajaan Allah.
- Tapi mereka menggunakan Allah untuk melayani dalam kerajaan pribadi mereka.
Mereka mengasihi Allah karena apa yang bisa Ia lakukan untuk mereka, dan bukan karena pribadi-Nya.
Konteks Budaya
Kamu mungkin berkata: “Aku tidak punya duri. Apa itu duri?”
Duri-duri itu tidak terlihat.
Tidak seperti duri yang dapat menusuk dan membuatmu berdarah.
Seperti apa duri itu?
Duri itu adalah layar ponselmu pada jam malam hari.
Duri itu adalah nonton Netflix berjam-jam.
Duri itu adalah kalender Anda yang penuh dengan segala macam kegiatan dan kesibukan.
Hidup Anda penuh sesak.
- Sebagian dengan hiburan.
- Sebagian dengan pekerjaan.
- Sebagian lagi dengan keluarga.
Semua itu bukan hal-hal yang berdosa.
Tapi semua itu dapat menghasilkan noise, kebisingan, dalam hidup Anda.
Firman Allah tidak akan bisa masuk ke dalam dan mengubah hidup Anda.
Akhirnya, Anda tidak bertumbuh.
Anda tidak berbuah.
Jadi, apa yang akan Anda lakukan?
Anda mungkin sudah diyakinkan pagi ini, dan bertekad untuk membuat perubahan hidup:
- Saya berjanji akan rajin baca Alkitab.
- Saya akan lakukan ini.
- Saya akan lakukan itu.
Sebelum Anda melakukan semua itu, ingat:
Benih itu adalah firman Allah.
Tanah itu adalah hidupmu, hatimu.
Jika Anda adalah tanah, Anda tidak bisa mencabut duri-duri itu sendiri.
Anda sebenarnya tahu itu, sebab Anda sudah mencobanya berkali-kali.
Tapi duri-duri itu terus tumbuh kembali dalam hidup Anda.
Sekarang, tanah yang keempat.
Tanah 4: Tanah yang Baik
“Yang jatuh di tanah yang baik itu ialah orang, yang setelah mendengar firman itu, menyimpannya dalam hati yang baik dan tulus ikhlas, dan menghasilkan buah dalam ketekunan.”
Lukas 8:15
Perhatikan tiga hal ini:
- Mereka mendengar firman.
- Mereka menyimpannya dengan teguh.
- Mereka menghasilkan buah dalam ketekunan.
Ini bukanlah gambaran orang-orang yang hebat, atau orang-orang yang diurapi secara khusus.
- Bukan orang-orang genius.
- Bukan soal orang dengan disiplin yang tinggi.
- Ataupun yang bebas dari pergumulan dan keraguan hidup.
Ini adalah gambaran orang-orang yang memiliki sikap, postur hati, tertentu terhadap firman.
- Mereka mendengar dan menerima Firman Allah dengan jujur.
- Mereka berpegang padanya, dalam keadaan baik maupun buruk.
- Dan mereka percaya bahwa buah akan datang, bahkan ketika mereka belum bisa melihatnya.
Yunani: ὑπομονή
Kata “ketekunan” berasal dari kata Yunani hupomone.
Ini artinya ketahanan yang teguh.
Bertahan di bawah tekanan.
Empat jenis tanah.
Anda yang mana?
Tapi tanah jenis apa pun Anda, ada satu hal yang mutlak, yang benar bagi semua kita.
Tanah tidak bisa memperbaiki dirinya sendiri.
Anda tidak bisa mengeluarkan batu-batumu sendiri.
Anda tidak bisa mencabut duri Anda sendiri.
Anda tidak bisa menjadikan diri Anda sendiri untuk menjadi tanah yang baik dengan cara berusaha lebih keras.
Kamu adalah tanah.
Yang Anda butuhkan adalah seorang Tukang Kebun.
3. Diubah oleh Firman
Empat jenis tanah.
Dan semuanya memiliki masalah yang sama.
Tanah tidak bisa memperbaiki dirinya sendiri.
Jika transformasi hidup bergantung pada tanah yang memperbaiki dirinya sendiri, maka kita tidak memiliki harapan sama sekali.
Namun Yesus berkata:
“Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah.”
Yohanes 12:24
Yesus tidak sedang berbicara tentang soal pertanian.
- Ia sedang berbicara tentang diri-Nya sendiri.
- Ia adalah biji gandum.
- Ia adalah benih itu.
Artinya apa?
Yesus bukan hanya Sang Penabur yang menaburkan firman.
Ia juga adalah Benih yang masuk ke dalam tanah.
Inilah Injil.
Inilah keunikan Injil.
Semua agama lain menyuruh Anda untuk berusaha lebih keras.
Tapi hanya Kristus.
Ia tidak menyuruh Anda untuk turun ke bawah.
Tapi Ia sendiri yang turun.
Ia masuk ke dalam kegelapan.
Ke dalam dinginnya.
Ke dalam tanah.
Yesus, Anak Allah yang kekal, tidak berteriak dari surga memberikan kita perintah-perintah-Nya.
- Ia sendiri turun dari surga.
- Ia mengambil rupa manusia.
- Ia tinggal di antara kita.
- Ia berjalan masuk ke tanah yang paling keras.
Tanah penderitaan.
Tanah pengkhianatan.
Tanah yang berupa salib.
Dan di sana, di tempat yang kelihatannya seperti akhir yang mengerikan, Dia bangkit!
Pertanyaannya bukan lagi hanya:
Anda tanah jenis yang mana?
Pertanyaannya menjadi:
Apakah Anda tahu apa yang Benih itu telah lakukan untukmu?
- Yesus Kristus adalah Benih.
- Ia adalah Firman Allah.
- Dan Ia juga adalah Sang Tukang Kebun.
Ia tidak memberikan instruksi dan peraturan dari jauh.
Ia masuk ke dalamnya.
Ia berlutut di atas tanah.
Dengan segala batu dan duri, dan Ia mulai bekerja.
Pagi ini, izinkan saya menyampaikan apa yang Tukang Kebun itu tawarkan bagi Anda.
Jika hati Anda keras, atau seperti tanah yang berbatu, maupun penuh dengan duri.
Jika Injil hanyalah pengetahuan semata-mata.
Jika Anda sudah mengetahuinya di kepala tapi belum pernah menyentuh hati Anda, dengarlah ini:
Batu besar yang menutup kubur Yesus tidak dapat menahan-Nya di sana.
Ia menembus tanah yang keras.
Ia melakukannya 2.000 tahun yang lalu.
Dan Ia masih melakukannya hari ini.
Datanglah kepada-Nya bukan dengan tekad yang lebih, tapi datanglah kepada-Nya dalam segala kelemahanmu.
- Datanglah dengan semua keputusasaanmu.
- Anda tidak perlu kuat terlebih dahulu.
- Datanglah apa adanya.
Bukan orang yang kuat, bahkan bukan orang yang memiliki banyak iman yang diselamatkan.
Tapi mereka yang menaruh imannya kepada Kristus.
Jika Anda adalah orang Kristen, ingatlah: Yesus jauh lebih berharga dari apa pun juga.
Jangan datang kepada-Nya untuk apa yang Ia dapat berikan, namun datanglah karena pribadi-Nya.
Jika hidupmu penuh sesak dan hatimu mendua, bawalah semuanya kepada-Nya, bukan hanya apa yang Anda rasa nyaman untuk serahkan.
Jika Anda bukan orang Kristen, Anda masih mencari tahu apakah semua ini benar.
Anda sudah mendengar sesuatu pagi ini.
Maukah Anda membiarkannya meresap lebih dalam?
Transformasi tidak terjadi dengan cara berusaha lebih keras.
Tidak terjadi dengan komitmen baru yang hanya akan segera pudar.
Transformasi terjadi seperti cara kerja sebuah benih.
Anda menerima firman.
Anda memegangnya dengan teguh.
Anda membawa diri Anda kepada Sang Tukang Kebun.
Datang dengan segala batu dan duri dan tanah yang keras, dan Anda meminta-Nya untuk melakukan apa yang hanya bisa Ia lakukan.
Lalu dengan tekun Anda menunggu.
Pria di Salib Tengah
Izinkan saya menceritakan sebuah kisah.
Saudara ingat dengan seorang penjahat yang disalib bersama Yesus.
Dia yang diselamatkan di menit-menit terakhir.
Bayangkan, si penjahat itu berdiri di gerbang surga.
Malaikat itu terpana melihat orang yang jahat ini bisa sampai di surga.
Dia diwawancarai oleh malaikat surga.
Apakah kamu tahu sepuluh perintah?
Tidak.
Apakah kamu tahu doktrin keselamatan?
Tidak.
Apakah kamu suka baca Alkitab?
Tidak, tidak punya Alkitab.
Lalu, kenapa kamu pikir kamu bisa masuk ke sini?
Penjahat itu menjawab:
“Saya tidak tahu. Pria di salib tengah itu bilang saya boleh datang.”
2.000 tahun yang lalu, Benih yang masuk ke dalam tanah dan bangkit kembali hidup dan bekerja di dalam hidup Anda, bahkan ketika Anda tidak bisa melihatnya.
Yesaya 55:11
Allah berkata tentang firman-Nya:
“Ia tidak akan kembali kepada-Ku dengan sia-sia, tetapi ia akan melaksanakan apa yang Kukehendaki, dan akan berhasil dalam apa yang Kusuruhkan kepadanya.”
Benih itu tidak akan gagal.
Sang Tukang Kebun itu tidak menyerah.
Discussion questions:
- Apa yang paling berkesan bagi Anda dari khotbah ini?
- Dari keempat jenis tanah tersebut, mana yang paling menjelaskan hati Anda dan mengapa?
- Apa saja disiplin atau kebiasaan yang dapat Anda mulai terapkan untuk mengatasi masalah Anda?
- Bagaimana Injil mengubah Anda menjadi tanah yang subur?
