Rock Church Logo

Ketika Hidup Sudah Tidak Ada Harapan

Sermon by: Sandhy Massie
17 May 2026

Introduction

Pernahkah Anda merasa bahwa hidup Anda sudah terlalu hancur untuk diperbaiki? Atau mungkin Anda mengenal seseorang, entah itu anggota keluarga, teman dekat, atau mungkin itu diri Anda sendiri, yang sudah menyerah, yang sudah tidak percaya bahwa ada jalan keluar?

Kita hidup di dunia yang penuh dengan orang-orang yang kesepian. Tapi apa sebenarnya kesepian itu? Ada sebuah lembaga kesehatan di Australia, Australian Institute of Health and elfare (AIHW), yang mendefinisikan kesepian bukan sekadar sendirian secara fisik. Mereka berkata, kesepian adalah perasaan bahwa hubungan yang kita punya tidak cukup memenuhi kebutuhan kita. Dengan kata lain, kita bisa dikelilingi banyak orang, punya ratusan teman di media sosial, tinggal bersama keluarga, dan tetap merasa kesepian.

Dan ini lebih nyata daripada yang kita bayangkan. WHO melaporkan bahwa 1 dari 6 orang di seluruh dunia mengalami kesepian. Di Australia, penelitian dari University of Sydney menemukan bahwa 43 persen anak muda berusia 15 hingga 25 tahun merasa kesepian, lebih dari dua dari lima anak muda. Dan ini bukan masalah kecil. AIHW menunjukkan bahwa kesepian telah dikaitkan dengan kematian dini, kesehatan fisik dan mental yang buruk, tekanan psikologis yang lebih besar, dan ketidakpuasan umum terhadap hidup. Bahkan sebelum pandemi COVID-19, kesepian sudah digambarkan sebagai salah satu prioritas kesehatan masyarakat yang paling mendesak di Australia.

Tapi ada pertanyaan yang lebih dalam dari sekadar statistik. Mengapa begitu banyak orang, bahkan orang yang tampaknya baik-baik saja, merasa ada kekosongan yang tidak bisa diisi? Ada yang lelah dengan dosa yang sama yang terus berulang. Ada yang merasa sendirian dalam luka lama yang tidak kunjung sembuh. Ada yang putus asa dengan hubungan yang terus rusak. Dan di dalam semua ini, yang mungkin sudah berujung pada keputusasaan, kita bertanya: Apakah ada kuasa yang benar-benar sanggup mengubah hidup manusia, hidup saya?

 

Lukas 8:26-39 yang menjadi bahan renungan kita hari ini akan menjawab langsung pertanyaan ini.

Mari kita baca Lukas 8:26–39 dengan hati terbuka, dan kita akan melihat bagaimana Tuhan berbicara kepada kita melalui kisah ini.

Yesus mengusir roh jahat dari orang Gerasa

8:26 Lalu mendaratlah Yesus dan murid-murid-Nya di tanah orang Gerasa yang terletak di seberang Galilea. 8:27 Setelah Yesus naik ke darat, datanglah seorang laki-laki dari kota itu menemui Dia; orang itu dirasuki oleh setan-setan dan sudah lama ia tidak berpakaian dan tidak tinggal dalam rumah, tetapi dalam pekuburan. 8:28 Ketika ia melihat Yesus, ia berteriak lalu tersungkur di hadapan-Nya dan berkata dengan suara keras: "Apa urusan-Mu dengan aku, hai Yesus Anak Allah Yang Mahatinggi? Aku memohon kepada-Mu, supaya Engkau jangan menyiksa aku." 8:29 Ia berkata demikian sebab Yesus memerintahkan roh jahat itu keluar dari orang itu. Karena sering roh itu menyeret-nyeret dia, maka untuk menjaganya, ia dirantai dan dibelenggu, tetapi ia memutuskan segala pengikat itu dan ia dihalau oleh setan itu ke tempat-tempat yang sunyi. 8:30 Dan Yesus bertanya kepadanya: "Siapakah namamu?" Jawabnya: "Legion," karena ia kerasukan banyak setan. 8:31 Lalu setan-setan itu memohon kepada Yesus, supaya Ia jangan memerintahkan mereka masuk ke dalam jurang maut. 8:32 Adalah di sana sejumlah besar babi sedang mencari makan di lereng gunung, lalu setan-setan itu meminta kepada Yesus, supaya Ia memperkenankan mereka memasuki babi-babi itu. Yesus mengabulkan permintaan mereka. 8:33 Lalu keluarlah setan-setan itu dari orang itu dan memasuki babi-babi itu. Kawanan babi itu terjun dari tepi jurang ke dalam danau lalu mati lemas. 8:34 Setelah penjaga-penjaga babi itu melihat apa yang telah terjadi, mereka lari lalu menceritakan hal itu di kota dan di kampung-kampung sekitarnya. 8:35 Dan keluarlah orang-orang untuk melihat apa yang telah terjadi. Mereka datang kepada Yesus dan mereka menjumpai orang yang telah ditinggalkan setan-setan itu duduk di kaki Yesus; ia telah berpakaian dan sudah waras. Maka takutlah mereka. 8:36 Orang-orang yang telah melihat sendiri hal itu memberitahukan kepada mereka, bagaimana orang yang dirasuk setan itu telah diselamatkan. 8:37 Lalu seluruh penduduk daerah Gerasa meminta kepada Yesus, supaya Ia meninggalkan mereka, sebab mereka sangat ketakutan. Maka naiklah Ia ke dalam perahu, lalu berlayar kembali. 8:38 Dan orang yang telah ditinggalkan setan-setan itu meminta supaya ia diperkenankan menyertai-Nya. Tetapi Yesus menyuruh dia pergi, kata-Nya: 8:39 "Pulanglah ke rumahmu dan ceriterakanlah segala sesuatu yang telah diperbuat Allah atasmu." Orang itupun pergi mengelilingi seluruh kota dan memberitahukan segala apa yang telah diperbuat Yesus atas dirinya.

Dari kitab Lukas 8:26-39 ini ada 4-point yang akan kita bahas Bersama-sama:

1.    Kehidupan Manusia yang Gagal (ayat 26-27)

Perhatikan apa yang Lukas catat pada ayat 26. Yesus mendarat di tanah orang Gerasa,wilayah di seberang Galilea. Ini bukan perjalanan biasa. Gerasa adalah kota yang makmur di wilayah non-Yahudi. Yesus sengaja menyeberang ke sana. Dan kalau kita baca keseluruhan cerita ini dengan cermat, tampaknya inilah alasan utama Yesus menyuruh para murid menyeberangi danau,bukan untuk berkhotbah di Synagogue, bukan untuk menyembuhkan banyak orang, tetapi untuk menemui satu orang. Satu orang yang tidak ingin ditemui oleh siapa pun. Dan ini membuktikan betapa berharganya jiwa satu orang ini di mata Yesus, dan begitu juga dengan jiwa kita ini sebagai orang berdosa.

Siapa orang ini? Lukas menggambarkannya dengan sangat jelas. Ia tidak berpakaian. Ia tidak tinggal di rumah. Ia tinggal di kuburan. Pada zaman itu, tinggal di antara orang mati bukan hanya aneh, itu adalah bentuk kehinaan yang paling parah. Kuburan adalah tempat kenajisan, tempat yang dihindari oleh orang-orang yang waras. Seseorang yang tidak bisa keluar dari sana adalah gambaran kehancuran yang total. Ia terpisah dari masyarakat. Ia kehilangan martabatnya. Ia kehilangan tempatnya. Ia kehilangan arah hidupnya.

Sekarang berhenti sejenak dan perhatikan gambaran ini.

Karena ternyata gambaran ini bukan hanya tentang orang itu. Ini adalah cermin bagi kita semua di luar Kristus. Dosa menelanjangi kita dalam rasa bersalah. Dosa menjauhkan kita dari sesama, membuat kita merasa sepi dan sendirian. Dosa membuat hati kita keras, walaupun mungkin tidak selalu terlihat dari luar. Secara rohani, kita pun berjalan di antara orang mati.

Dan mungkin ini lebih dekat dengan kehidupan kita daripada yang kita sadari, hanya dalam bentuk yang berbeda. Ada yang kelihatannya baik-baik saja, tetapi hatinya gelap. Ada yang tinggal bersama keluarga, tetapi jiwanya kesepian. Ada yang datang ke gereja setiap minggu, tetapi di dalam hatinya tidak ada damai. Kuburan itu tidak selalu tempat fisik. Kadang kuburan itu ada di dalam hati.

Dan inilah yang indah dari awal cerita ini. Yesus tidak berhenti di tepi pantai dan menunggu. Dia tidak menunggu orang itu menjadi baik dulu. Dia tidak menunggu keadaan menjadi layak dulu. Orang-orang di sekitar pria itu sudah menyerah padanya, tetapi Yesus tidak. Dia datang langsung, ke tempat yang paling gelap, paling najis, paling tidak layak dikunjungi. Itu bukan kebetulan. Itu adalah Injil.

Dan Injil itu berlaku juga untuk kita. Seperti yang pernah dikatakan Timothy Keller: "Di dalam diri kita sendiri, kita lebih berdosa dan rusak daripada yang pernah berani kita akui; namun pada saat yang sama, di dalam Yesus Kristus, kita lebih dikasihi dan diterima daripada yang pernah berani kita harapkan."

 

2.    Ada Kuasa yang Lebih Besar (ayat 28—33)

Kehinaan orang ini lebih mematikan daripada kebanyakan orang lain karena ia dirasuki oleh banyak roh jahat. Hal ini terlihat jelas dari cara ia menghadang Yesus:

"Ketika ia melihat Yesus, ia berteriak lalu tersungkur di hadapan-Nya dan berkata dengan suara keras, 'Apa urusan-Mu dengan aku, hai Yesus, Anak Allah Yang Mahatinggi?' Aku memohon kepada-Mu, jangan siksa aku.' Sebab Yesus telah memerintahkan roh najis itu keluar dari orang tersebut. Roh itu sudah berkali-kali menguasainya. Ia pernah dijaga dan diikat dengan rantai dan belenggu, tetapi ia memutuskan ikatan-ikatan itu dan digiring oleh roh jahat itu ke tempat-tempat sunyi" (Lukas 8:28–29).

Orang ini berada dalam keadaan yang sangat putus asa karena ia kerasukan bukan hanya satu roh jahat, tetapi banyak. "Lalu Yesus bertanya kepadanya, 'Siapakah namamu?' Ia menjawab, 'Legion', sebab banyak roh jahat telah masuk ke dalam dirinya" (Lukas 8:30). Alkitab tidak mengatakan secara pasti berapa banyak roh jahat itu, tetapi karena satu legion Romawi dapat berjumlah hingga enam ribu prajurit, kemungkinan jumlahnya ribuan. Setidaknya ada dua ribu, jika jumlah babi dalam kisah itu dapat menjadi petunjuk (lihat Markus 5:13).

Siapa sebenarnya roh-roh jahat itu? Mereka adalah malaikat-malaikat yang telah jatuh ke dalam dosa. Meskipun pada mulanya diciptakan untuk kemuliaan Allah, mereka memilih mengikuti Iblis dalam pemberontakannya dan kini menyiksa anak-anak manusia. Aktivitas roh jahat tampaknya sangat menonjol pada masa Kristus, mungkin karena Iblis mengarahkan seluruh kekuatan jahatnya terhadap tanah tempat janji tentang Sang Juruselamat digenapi. Ada yang menarik dari apa yang pernah direnungkan oleh Charles Spurgeon. Dia bertanya-tanya, apakah mungkin Iblis melihat Yesus datang ke dunia dan kemudian mencoba menirunya dengan cara mengirimkan roh-roh jahat ke dalam pikiran dan jiwa manusia? Kita tidak tahu pasti. Tetapi yang kita tahu adalah. Namun, apa pun alasannya, Yesus bertemu dengan banyak orang yang dirasuki oleh roh-roh jahat, termasuk orang ini.

Dan inilah yang luar biasa. Ketika orang itu melihat Yesus, roh-roh jahat di dalam dirinya langsung berseru: "Apa urusan-Mu dengan aku, Yesus, Anak Allah Yang Mahatinggi? Aku memohon kepada-Mu, supaya Engkau jangan menyiksa aku" (ayat 28). Kalau kita menyimak baik-baik, ternyata roh-roh jahat itu tahu siapa Yesus. Mereka mengenal identitas-Nya. Mereka mengakui otoritas-Nya. Dan mereka takut. Ini menunjukkan bahwa Yesus mempunyai posisi yang jauh lebih tinggi dari semua kekuatan spiritual yang ada, bahkan musuh-musuh-Nya sendiri pun mengakuinya.

Hal ini sangat penting untuk kita hari ini, karena banyak orang salah paham tentang peperangan rohani. Ada yang terlalu takut, seolah-olah kuasa gelap itu sama kuatnya dengan Tuhan. Ada juga yang memandang remeh dan menganggap semuanya tidak nyata. Tetapi Alkitab menunjukkan jalan yang benar, kuasa gelap itu nyata, tetapi Yesus jauh lebih kuat.

Ambil contoh sederhana dari kehidupan sehari-hari. Mungkin kamu menyebut dirimu seorang Kristen, tetapi yang benar-benar mendorong hidupmu, yang memberimu makna, yang paling kamu kejar adalah karier yang sukses. Di satu sisi, ini memberdayakanmu, kamu lebih termotivasi, bekerja lebih keras, dan naik tangga karier. Tetapi di sisi lain, ini memperbudakmu/kita. Karier ditempatkan di atas segalanya. Hubungan dikorbankan. Orang-orang yang kamu cintai disakiti. Kamu terus menyakiti dirimu sendiri, tetapi tidak bisa berhenti. Kapan pun sesuatu lebih penting bagi kita daripada Yesus sebagai pusat hidup kita, kita tidak jauh berbeda dengan orang yang dirasuki, karena ada kuasa lain yang sedang mengontrol hidup kita.

Dan ini hanya satu contoh. Karena cara roh-roh jahat bekerja bisa bermacam-macam, tidak selalu terbuka dan dramatis seperti dalam cerita Alkitab, tetapi sering kali tersembunyi dan perlahan-lahan. Mereka bekerja ketika sebuah pernikahan yang tadinya penuh kasih perlahan-lahan hancur karena kepahitan yang dibiarkan bertumbuh. Mereka bekerja ketika seorang anak muda yang tadinya rajin ke gereja perlahan-lahan kehilangan imannya karena dikelilingi oleh nilai-nilai dunia yang mengatakan bahwa Tuhan tidak relevan. Mereka bekerja ketika kecanduan, entah itu pornografi, alkohol, atau media sosial, dan hal ini mengambil kendali atas hidup seseorang sedikit demi sedikit sampai orang itu tidak tahu lagi bagaimana cara keluar. Mereka bekerja ketika rasa bersalah dan malu membuat seseorang merasa terlalu kotor untuk datang kepada Tuhan. Mereka bekerja ketika perpecahan dan gosip merusak persekutuan di dalam gereja. Dalam semua hal ini, intinya selalu sama, mereka menentang kemuliaan Allah dan keselamatan manusia.

Alkitab berkata, "Karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara" (Efesus 6:12).

Ada perebutan jiwa manusia yang sedang terjadi, dan orang yang dirasuki Legion itu memberi kita gambaran yang mengejutkan tentang apa yang terjadi ketika Iblis sedang menang, terasing dari masyarakat, membahayakan diri sendiri, kehilangan akal sehat, tinggal di antara orang mati, dan tidak berdaya untuk melawan. Hidupnya telah menjadi seperti neraka yang nyata.

Tetapi inilah yang harus kita pegang hari ini, Legion pun takluk di hadapan Yesus. Tidak ada yang terlalu berat, tidak ada yang terlalu gelap bagi-Nya. Kalau ada dosa yang mengikat, Yesus lebih kuat. Kalau ada ketakutan yang menghantui, Yesus lebih kuat. Kalau ada kecanduan, Yesus lebih kuat. Kalau ada kepahitan dalam keluarga, Yesus lebih kuat. Kalau ada luka lama yang belum sembuh, Yesus lebih kuat.

Jadi dalam peperangan rohani, kita tidak hidup dalam ketakutan. Kita hidup di bawah otoritas Kristus. Kita berdoa. Kita bertobat. Kita pegang firman Tuhan. Kita datang kepada Yesus. Karena kuasa Yesus bukan teori. Kuasa Yesus nyata!

3.    Kehidupan yang dipulihkan (ayat 34-37)

Selanjutnya, kita melihat para gembala berlari dan melaporkan apa yang terjadi (ayat 34). Peristiwa itu bersifat terbuka, semua orang dapat melihat bahwa Yesus telah bertindak dengan otoritas yang nyata. Dan apa yang mereka temukan? Orang itu duduk di kaki Yesus, berpakaian, dan dalam keadaan waras (ayat 35).

Ini adalah salah satu gambaran paling indah dalam Injil. Orang yang dulu telanjang, kini berpakaian. Orang yang dulu berteriak-teriak, kini duduk tenang. Orang yang dulu tinggal di antara orang mati, kini hidup kembali. Yesus tidak hanya menenangkan masalah di permukaan. Yesus memulihkan manusia itu secara utuh.

Dan inilah Injil yang sesungguhnya, bukan hanya berita bahwa dosa diampuni, tetapi kabar baik bahwa Tuhan memulihkan manusia. Yesus bukan hanya menyelamatkan kita dari hukuman dosa, tetapi juga memulihkan kita menjadi manusia baru.

Mungkin ini relevan dengan keadaan kita hari ini. Ada suami istri yang perlu dipulihkan. Ada hubungan antara orang tua dan anak yang perlu dipulihkan. Ada hati yang keras yang perlu dilembutkan. Ada pikiran yang kacau yang perlu ditenangkan. Percayalah, Yesus yang memulihkan orang ini sanggup memulihkan saudara juga.

Tetapi ada yang menarik di akhir cerita ini. Setelah menyaksikan mukjizat yang luar biasa itu, penduduk Gerasa justru meminta Yesus untuk pergi (ayat 37).

Coba saya gambarkan dengan dua cerita yang mungkin terasa familiar. Ada seseorang yang sebetulnya tahu hidupnya perlu berubah. Yang pertama, seseorang yang tahu bahwa hidupnya perlu berubah. Ia tahu bahwa cara ia menghasilkan uang tidak jujur. Ia tahu bahwa gaya hidupnya tidak sesuai dengan firman Tuhan. Tetapi ketika Yesus mulai mengguncang area itu, ia mundur, karena perubahan itu akan terlalu mahal harganya, secara finansial, secara sosial, secara gaya hidup. Yang kedua, seorang profesional yang sukses. Ia mengagumi Yesus dari jauh, senang dengan ajaran-Nya, menghormati nilai-nilai Kristiani. Tetapi untuk benar-benar menyerahkan hidupnya, untuk dikenal sebagai orang Kristen yang serius di tempat kerjanya dan di lingkungan sosialnya, itu terlalu mengguncang identitasnya. Jadi, seperti penduduk Gerasa, keduanya meminta Yesus untuk tidak terlalu jauh masuk ke dalam hidup mereka.

Kenapa? Karena pemulihan itu mengguncang kenyamanan mereka, secara ekonomi, secara moral, secara spiritual. Seperti penduduk Gerasa yang lebih memilih babi mereka daripada keselamatan jiwa, mereka lebih memilih kenyamanan dan jarak daripada perjumpaan yang sesungguhnya dengan Yesus. Ini adalah peringatan bagi kita semua, mungkin kita tidak menolak Yesus secara terang-terangan, tetapi kita bisa menolak-Nya dengan cara yang jauh lebih halus, dengan memilih untuk tidak membiarkan-Nya masuk terlalu dalam.

Tetapi di tengah semua ketakutan itu, ada satu orang yang memilih hal yang berbeda, orang yang baru saja dipulihkan itu memohon untuk ikut bersama Yesus.

4.    Dipulihkan dan Menjadi Saksi Kristus (ayat 38-39)

Setelah dipulihkan, orang ini meminta satu hal kepada Yesus, ia ingin ikut bersama-Nya (ayat 38). Itu adalah respons yang wajar. Kalau hidup kita baru saja diubah, tentu kita ingin terus dekat dengan Dia yang mengubahnya.

Tetapi Yesus punya rencana yang berbeda. Ia berkata, "Pulanglah ke rumahmu dan ceritakanlah segala sesuatu yang telah diperbuat Allah atasmu" (ayat 39).

Ada sesuatu menarik di sini menurut Philip Ryken. Yesus bilang, ceritakan apa yang Allah perbuat. Tetapi orang itu pergi dan menceritakan apa yang Yesus perbuat. Lukas mencatat ini bukan sebagai kesalahan, ini adalah pernyataan iman. Orang itu sudah tahu bahwa Yesus dan Allah adalah satu.

Dan inilah inti dari seluruh cerita ini. Yesus yang mengusir Legion, Yesus yang memulihkan orang itu, adalah Yesus yang sama yang kemudian mati di kayu salib menanggung dosa kita, dan bangkit dari kematian untuk memberi kita hidup yang baru. Pemulihan di Gerasa itu menunjuk ke salib. Kuasa yang mengalahkan Legion adalah kuasa yang sama yang mengalahkan dosa dan maut.

Jadi siapapun yang telah datang kepada Yesus dengan iman, kamu punya cerita untuk diceritakan. Detailnya mungkin berbeda, tetapi intinya sama: Allah telah mengampuni dosa kita melalui salib Kristus, dan Ia memulihkan kita untuk tujuan yang lebih besar.

Dan hal ini yang mendorong saya hari ini untuk berdiri di mimbar ini. Setelah lebih dari tiga tahun bergumul, apakah saya layak, apakah saya mampu, kisah dari Lukas 8 ini mengingatkan saya kembali bahwa saya yang telah diselamatkan, yang telah ditebus, tidak ada yang dapat saya lakukan selain mulai bercerita tentang kabar baik ini.

Kepada saudara juga, mungkin bukan dari mimbar. Tetapi kalau Tuhan sudah menyentuh hidupmu, jangan simpan sendiri. Kalau Tuhan sudah memulihkan keluargamu, jangan diam saja. Mulailah dari rumah. Bagi orang tua, biarkan anak-anakmu melihat iman yang nyata. Bagi anak muda, biarkan imanmu kelihatan di rumah, di kampus, di tempat kerja. Satu kesaksian yang tulus di rumah kadang lebih kuat daripada seribu nasihat.

Karena Yesus tidak memulihkan kita hanya untuk diri-Nya sendiri. Ia memulihkan kita untuk menjadi saksi-Nya.

Refleksi

Sebelum kita tutup, mari kita berhenti sejenak dan merenungkan bersama-sama.

Jadi, siapa Yesus dalam cerita ini?

Pertama, Yesus adalah Anak Allah yang datang ke tempat paling gelap dan berkuasa atas segalanya. Dia tidak menunggu orang Gerasa itu menjadi baik dulu. Dia datang langsung, dan Legion pun takluk. Tetapi perhatikan sesuatu yang indah di sini. Setelah orang itu dipulihkan, Yesus diusir oleh penduduk kota, dan Dia pergi. Yesus bersedia ditolak, bersedia diusir, agar satu orang itu bisa bebas. Dan itulah gambaran dari apa yang Dia lakukan untuk kita semua. Di kayu salib, Yesus yang tidak bersalah dihakimi, dihina, dan mati, bukan karena kesalahan-Nya, tetapi karena kesalahan kita. Dia mengambil tempat kita di dalam kegelapan, agar kita bisa berdiri di dalam terang-Nya. Dan di hari yang ketiga, Dia bangkit, membuktikan bahwa tidak ada kuasa yang lebih besar dari-Nya.

Kedua, Yesus memulihkan kita secara utuh dan mengutus kita menjadi saksi-Nya. Orang yang dulu telanjang, kesepian, dan tinggal di antara orang mati, kini duduk tenang di kaki Yesus. Inilah yang Injil janjikan, bukan hanya pengampunan dosa, tetapi pemulihan manusia yang sesungguhnya. Dan kepada orang yang dipulihkan itu, Yesus berkata, "Pulanglah dan ceritakanlah." Bukan karena kesaksian kita yang menyelamatkan, tetapi karena Kristus yang menyelamatkan, dan Dia layak untuk diberitakan.

Kalau hari ini ada bagian hidupmu yang terasa seperti kuburan, Yesus masih datang. Kalau ada rantai yang mengikat, Yesus masih lebih kuat. Kalau ada hati yang hancur, Yesus masih sanggup memulihkan. Seperti orang di Gerasa itu, ketika tidak ada harapan, Yesus muncul dan mengambil tempat kita. Bukan karena kita layak, tetapi karena Dia yang layak sudah turun ke tempat paling gelap, mati menggantikan kita, dan bangkit untuk memberi kita hidup yang baru.

Itulah Yesus yang kita kenal. Itulah Yesus yang kita butuhkan.

Discussion questions:

  1. Apa yang paling membekas bagi Anda dari khotbah ini?
  2. Apa yang terjadi ketika seseorang dirasuki setan? Berikan contoh bagaimana hal itu terjadi dalam kehidupan sehari-hari.
  3. Setan-setan itu sujud di hadapan Yesus, dan mereka gemetar saat melihat Yesus. Apa yang dapat Anda pelajari tentang Yesus dari hal ini?
  4. Mengapa penduduk kota itu meminta Yesus untuk pergi? Apakah Anda melihat kecenderungan dalam diri Anda untuk melakukan hal yang sama? Mengapa atau mengapa tidak?
  5. Bagaimana Injil membebaskan Anda dari ikatan setan?