Rock Church Logo

Give

Loading...

Ketika Pekerjaan Menjadi Ibadah

Sermon by: Ps. Ferdinand Haratua
23 November 2025

1 Tesalonika 4:9-12

9 Tentang kasih persaudaraan tidak perlu dituliskan kepadamu, karena kamu sendiri telah belajar kasih mengasihi dari Allah. 10 Hal itu kamu lakukan juga terhadap semua saudara di seluruh wilayah Makedonia. Tetapi kami menasihati kamu, saudara-saudara, supaya kamu lebih bersungguh-sungguh lagi melakukannya. 11 Dan anggaplah sebagai suatu kehormatan untuk hidup tenang, untuk mengurus persoalan-persoalan sendiri dan bekerja dengan tangan, seperti yang telah kami pesankan kepadamu, 12 sehingga kamu hidup sebagai orang-orang yang sopan di mata orang luar dan tidak bergantung pada mereka.

 

Banyak orang di zaman ini bekerja supaya suatu hari mereka bisa berhenti bekerja.

  • Banyak yang tidak sabar untuk pensiun—mengumpulkan harta agar bisa berhenti bekerja.
  • Bahkan setiap tahun kita bekerja supaya bisa tidak bekerja selama beberapa minggu.Lembaga riset Roy Morgan menunjukkan bahwa hingga 25% orang Australia merencanakan liburan luar negeri, dan lebih dari setengah populasi merencanakan liburan domestik.

 

Apa artinya?

Pekerjaan telah menjadi beban yang harus ditanggung, bukan sesuatu yang dinikmati.

  • Kita bekerja demi akhir pekan.
  • Kita bekerja supaya bisa melakukan hal-hal yang kita nikmati. (liburan akhir tahun)

 

Kita membayangkan masa di mana kita bisa berkata:

“Akhirnya, saya sudah bisa pensiun, tidak perlu bekerja lagi.”

 

Itu mengungkapkan sesuatu tentang kerinduan hati kita:

  • Di satu sisi, ada yang memandang pekerjaan sebagai sesuatu yang harus dijalani—bukan karena kita mau, tetapi karena tidak ada pilihan lain—demi kenyamanan hidup.
  • Di sini lain, kita tidak bisa berhenti bekerja. Kita bekerja pagi sampai malam—dari Senin sampai Minggu.

 

Sebenarnya, yang kita rindukan adalah “kelegaan dari pekerjaan”—namun seringnya, ketika kita mendapatkannya, kita tidak merasa puas, bahkan kecewa.

 

Bagaimana jika masalahnya bukan pada pekerjaan kita, melainkan karena kita telah kehilangan visi tentang apa itu pekerjaan.

  • Akibatnya, kita akan menjadikan pekerjaan sebagai berhala, atau sebaliknya, menjadikannya musuh.

 

Coba tanya dengan jujur, jika Anda tidak perlu uang, apakah saudara masih bekerja?

Dan menariknya, ini bukan dilemma baru yang dialami oleh kita yang hidup di zaman modern.

  • Orang Kristen di gereja mula-mula pun ada yang memilih untuk berhenti bekerja karena mereka percaya Tuhan Yesus akan segera datang.
  • Buat Anda yang bekerja keras demi membayar mortgage—kalau Anda percaya Tuhan Yesus akan datang sebulan lagi, apakah masih bayar mortgage?

Inilah alasannya mengapa Paulus menulis surat Tesalonika—untuk mengingatkan orang percaya pada waktu itu (dan untuk kita juga hari ini) bahwa pekerjaan kita itu berharga di mata Tuhan, bahkan pekerjaan adalah satu bagian yang penting bagi kita jika kita ingin hidup memuliakan Tuhan.

Pagi ini, melalui perikop yang sudah kita baca tadi, kita akan melihat 3 hal:

  1. Panggilan untuk Bekerja
  2. Prinsip dalam Bekerja
  3. Pengaruh dari Bekerja

1. Panggilan untuk Bekerja

 

Pekerjaan salah satu sarana yang Tuhan berikan untuk kita mengasihi sesama.

 

Paulus memuji jemaat Tesalonika karena kasih mereka:

 

1 Tesalonika 4:9–10 (TB):

9 Tentang kasih persaudaraan tidak perlu dituliskan kepadamu, karena kamu sendiri telah belajar kasih mengasihi dari Allah.

10 Hal itu kamu lakukan juga terhadap semua saudara di seluruh wilayah Makedonia. Tetapi kami menasihati kamu, saudara-saudara, supaya kamu lebih bersungguh-sungguh lagi melakukannya.

 

Jemaat di Tesalonika dipuji oleh Paulus atas kasih mereka terhadap sesama.

 

Namun, kasih itu harus bertambah—”lebih bersungguh-sungguh lagi melakukannya.”

Menariknya, cara yang Paulu berikan agar mereka bisa mengasihi sesama lebih sungguh-sungguh lagi adalah dengan cara bekerja.

 

Yang terutama pekerjaan kita bukanlah untuk mengekspresikan diri kita atau untuk mengejar status, tetapi soal mengasihi sesama.

 

Pekerjaan adalah salah satu cara paling nyata kita mengasihi sesama.

Dalam budaya Greko-Romawi, kerja kasar dipandang rendahsesuatu yang hanya pantas dilakukan oleh para budak.

  • Warga terhormat pada zaman itu umumnya memandang rendah pekerjaan kasar.
  • Namun Paulus membalikkan cara pandang itu:

Di dalam Kristus, pekerjaan yang paling hina sekalipun sebenarnya berharga dan kudus bagi Tuhan.

 

Apa yang saya maksud dengan pekerjaan?

Ada orang mengira bahwa pekerjaan adalah apa pun yang kita lakukan yang dibayar.

  • Namun sesungguhnya, pekerjaan bukan soal ada upah atau tidak.
  • Allah sendiri bekerja ketika menciptakan dunia—dan Ia tidak menerima bayaran apa pun.

 

Jadi kita bisa mendefinisikan seperti ini: Pekerjaan adalah apa pun yang bukan istirahat atau hiburan.

 

Sudut pandangan ini sering bertentangan dengan cara banyak orang memandang pekerjaan.

 

Memang, ada orang yang mungkin berkata,

“Kerja itu bukan soal uang, tetapi soal mengekspresikan diri saya. Tentang menemukan sesuatu yang memuaskan hati saya.”

 

Makanya kita sering diberi nasehat:

‘Cari “passion” Anda itu apa, dan lakukanlah itu.

Dan jika Anda sudah tidak puas lagi dengan pekerjaan Anda, berhenti saja dan cari yang lain.’

 

Tanpa sadar, itu telah menjadi pola pikir kita: karier sebagai bentuk pembuktian diri.

 

Namun Alkitab menegaskan bahwa pekerjaan itu haruslah berorientasi and berpusat kepada orang lain, bukan kepada diri sendiri.

  • Pekerjaan bukan untuk mengekspresikan siapa kita, tetapi melayani mereka yang ada di sekitar kita.

 

  1. S. Lewis pernah berkata dalam The Weight of Glory:

“Beban kemuliaan sesamaku harus kupikul setiap hari—beban yang begitu berat, sehingga hanya kerendahan hati yang sanggup menanggungnya.”

 

  1. S. Lewis ingin menegaskan bahwa setiap orang yang kita temui diciptakan menurut gambar Allah.
  • Oleh karena itu, cara kita memperlakukan orang lain—dan cara kita melayani mereka melalui pekerjaan kita—tidak pernah kecil atau sepele, sebab kita sedang melayani seseorang yang sangat berharga di mata Tuhan.

 

Kita tidak bekerja untuk membangun status kita atau kemuliaan kita.

  • Sebaliknya, orang Kristen harus menilai pekerjaan berdasarkan seberapa besar pekerjaan itu membawa kebaikan dan memberi nilai tambah bagi orang lain.

 

Kita bekerja demi kebaikan sesama.

  • Jadi, pekerjaan yang tidak dibayar pun adalah pekerjaan yang sah, yang memuliakan Tuhan, dan harus dilakukan dengan sungguh-sungguh.
  • Inilah sebabnya menjadi ibu rumah tangga adalah pekerjaan yang baik dan mulia.

 

Seperti yang tertulis dalam Kolose 3:23–24 (TB):

“23 Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. 24 Kamu tahu, bahwa dari Tuhanlah kamu akan menerima bagian yang ditentukan bagimu sebagai upah. Kristus adalah tuan dan kamu hamba-Nya.”

 

“Namun bagaimana kalau saya tidak bisa bekerja?”

 

Visi Alkitab tentang pekerjaan jauh lebih luas daripada pekerjaan profesional.

Esensi dari pekerjaan menurut Alkitab adalah kasih yang diwujudkan—memakai waktu, tenaga, dan karunia yang Tuhan berikan demi kebaikan orang lain.

 

  • Karena itu, sekalipun Anda tidak dapat bekerja secara formal dan profesional, Anda tetap dapat menjalani panggilan untuk bekerja.
  • Contohnya: Anda bisa mendoakan, menguatkan, mendengarkan, mendampingi, menasihati, dan banyak hal lainnya, untuk sesama.

2. Prinsip dalam Bekerja

Orang zaman sekarang sering meyakini bahwa,

“Kehebatan datang lewat ambisi.”

“Big results require big ambition”

  • “Untuk hasil yang besar, diperlukan ambisi yang besar.”

 

Paulus sebenarnya setuju bahwa ambisi itu penting—tetapi bukan dalam arti yang umum yang sering kita pikirkan.

 

Di 1 Tesalonika 4:11 Paulus menulis:

“Dan anggaplah sebagai suatu kehormatan untuk hidup tenang, untuk mengurus persoalan-persoalan sendiri dan bekerja dengan tangan, seperti yang telah kami pesankan kepadamu”

 

Kata “anggaplah sebagai suatu kehormatan” di sini berarti menjadikan pekerjaan kita sebagai ambisi.

 

Apa ambisi yang dimaksud oleh Paulus?

Yaitu “hidup tenang”— dalam konteks Perjanjian Baru berarti bekerja dengan tekun.

 

Bekerja itu hidup tenang, bukan hidup dalam kegelisahan.

 

  • Pemikiran ini sangat bertentangan dengan budaya pada masa lalu di Perjanjian Baru, dan juga dengan budaya kita sekarang ini.
  • Orang zaman sekarang bekerja supaya bisa beristirahat. Tetapi Paulus berkata: pekerjaan yang baik itu sendiri adalah istirahat.

 

Paulus menulis surat Tesalonika seperti ini karena ada sebagian orang Kristen di sana yang berhenti bekerja.

  • Mereka yakin bahwa kedatangan Kristus sudah begitu dekat sehingga hal-hal sehari-hari—seperti bekerja—tidak perlu lagi.

 

Mereka telah memisahkan apa yang dianggap “rohani” dan apa yang dianggap “duniawi”.

  • Paulus menegaskan bahwa kesalehan orang Kristen justru ditemukan dalam kesetiaan mereka dalam pekerjaan, dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

 

Artinya, pekerjaan saya, sebagai pendeta, tidaklah lebih rohani daripada pekerjaan lainnya.

  • Tidak lebih rohani dari seorang akuntan yang jujur.
  • Tidak lebih rohani dari seorang supir taksi / Uber.
  • Tidak lebih rohani dari seorang
  • Tidak lebih rohani dari seorang seniman yang berkarya dengan integritas.

 

Allah sendiri melakukan pekerjaan kasar, Dia bekerja dengan tangan-Nya ketika Ia menciptakan manusia dari debu tanah.

 

Mungkin sebagian dari kita bahkan berpikir bahwa pekerjaan akan berakhir ketika nanti di surga.

 

Dalam kitab Kejadian, sebelum dosa masuk ke dalam dunia, Adam dan Hawa sudah ditempatkan di taman untuk bekerja.

  • Pekerjaan itu sendiri bukanlah kutuk.
  • Pekerjaan adalah sesuatu yang memang didesain Tuhan dari awal penciptaan untuk semua umat manusia.

 

Apa artinya ini?

  • Artinya, tanpa pekerjaan yang bermakna, maka Anda akan merasakan kehampaan yang mendalam.

 

Paulus menasihati jemaat Tesalonika agar tidak menjadi malas, tetapi untuk hidup dengan setia, yaitu kehidupan yang memancarkan Kristus dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam pekerjaan.

 

2 Tesalonika 3:6-8 (TB)

6 Tetapi kami berpesan kepadamu, saudara-saudara, dalam nama Tuhan Yesus Kristus, supaya kamu menjauhkan diri dari setiap saudara yang tidak melakukan pekerjaannya dan yang tidak menurut ajaran yang telah kamu terima dari kami. 7 Sebab kamu sendiri tahu, bagaimana kamu harus mengikuti teladan kami, karena kami tidak lalai bekerja di antara kamu, 8 dan tidak makan roti orang dengan percuma, tetapi kami berusaha dan berjerih payah siang malam, supaya jangan menjadi beban bagi siapa pun di antara kamu.

 

Namun banyak dari kita yang tahu, dalam Kejadian 3, di mana dosa masuk ke Taman Eden.

  • Oleh karena itu, pekerjaan pun telah terkena dampak dosa.

 

Akibat dari dosa,

Hati kita sekarang cenderung menjadikan pekerjaan sebagai berhala.

 

Hal ini bisa terjadi dalam dua bentuk:

  • Kita bisa terlalu memuliakan pekerjaan—menjadikannya tempat kita mencari identitas, nilai diri, dan pengakuan.
  • Atau kita justru terlalu menyepelekan pekerjaan—mengabaikannya sampai kita menjadi malas dan tidak bertanggung jawab.

 

Tim Keller pernah berkata:

“Kita tidak akan memiliki hidup yang berarti tanpa bekerja, namun kita juga tidak boleh menjadikan pekerjaan menjadi sumber makna hidup kita.”

3. Pengaruh dari Bekerja

Paulus menulis seperti ini di 1 Tesalonika 4:12

Sehingga kamu hidup sebagai orang-orang yang sopan di mata orang luar dan tidak bergantung pada mereka.

Menjadi orang Kristen berarti iman kepercayaan kita tidak dapat dipisahkan dari kehidupan sehari-hari kita.

 

Pekerjaan kita bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan kita, tetapi juga menjadi kesaksian bagi dunia yang memperhatikan.

 

Melalui pekerjaan kita, khususnya cara kita bekerja, dapat membuat Kristus semakin indah—atau justru menodai Nama-Nya.

 

Rasul Paulus menegaskan bahwa orang Kristen harus bekerja untuk mencukupi hidup mereka—demi martabat mereka sendiri dan demi kesaksian kepada orang lain.

 

Inilah artinya hidup bagi kemuliaan Allah:

  • Segala sesuatu yang kita lakukan—termasuk cara kita bekerja—harus menunjukkan bahwa Allah adalah yang terutama/terpenting dalam hidup kita.
  • Allah adalah motivasi utama dari segala yang kita kerjakan.

 

Dengan kata lain, pekerjaan kita adalah ibadah kita kepada Tuhan.

 

Oleh karena itu, orang Kristen harus menunjukkan bahwa apa pun yang kita lakukan dalam pekerjaan kita—cara kita menggunakan waktu dan uang kita—semuanya kita lakukan demi kemuliaan Allah yang kita sembah.

 

John Calvin menjelaskan dengan sederhana:

“Segala sesuatu harus kita lakukan dengan tujuan agar Allah dimuliakan di dalam kita.”

(Institutes of the Christian Religion, 3.7.2)

 

Yang dimaksud oleh John Calvin adalah bahwa setiap bagian hidup kita — bahkan yang kelihatannya paling biasa — harusnya menunjuk kembali kepada Allah.

  • Tujuan kita bekerja keras dengan penuh integritas bukanlah demi kesuksesan atau pembuktian diri sendiri, tetapi agar orang lain dapat melihat kemuliaan Allah yang terpancar melalui hidup kita.

 

 

Untuk itu kita perlu berintegritas dalam bekerja, sebab hal itu mencerminkan karakter Allah sendiri.

 

Kepada jemaat di Efesus, Paulus menulis seperti ini…

Efesus 4:28
“Orang yang mencuri, janganlah ia mencuri lagi, tetapi baiklah ia bekerja keras dan melakukan pekerjaan yang baik dengan tangannya sendiri, supaya ia dapat membagikan sesuatu kepada orang yang berkekurangan.”

 

Kita mungkin bisa gagal dalam hal ini.

 

  • Kita memuliakan pekerjaan lebih daripada Allah—memakai karier kita untuk mencari identitas, nilai diri atau kehormatan.

Atau

  • Kita justru menghindari pekerjaan—melihatnya sebagai beban atau kutuk. Kita hidup dalam kemalasan.

 

Kedua-duanya lahir dari berhala dalam hati kita:

  • Yang satu menyembah pekerjaan,
  • Yang lainnya, menyembah kenyamanan.

 

Sering kali pekerjaan tidak memberi kita kenyamanan (kelegaan), karena kita bekerja keras untuk memperoleh keselamatan, bukan ungkapan dari keselamatan yang sudah kita terima.

Untuk pengakuan, bukan ungkapan dari pengakuan yang sudah kita terima.

 

  • Maka kita selalu merasa gelisah — sebab kita harus terus membuktikan diri kita.

 

Bagi yang malas

  • Kita hanya akan bekerja rajin ketika ada yang mengawasi.
  • Kita perlu bertanya pada diri sendiri:

“Apakah cara saya bekerja berubah ketika tidak ada yang mengawasi?”

 

            Bagi pekerja keras

  • Kita bekerja terus-menerus karena hati kita tidak pernah puas.
  • Kita mengejar prestasi, produktivitas, dan pengakuan.
  • Kita akan memperalat orang lain demi kepentingan kita.

 

Kita rela mengorbankan relasi, dan bahkan juga mengabaikan kesehatan tubuh dan jiwa kita sendiri.

 

Semua ini adalah bentuk dari penyembahan berhala.

Anda mungkin tidak malas, tidak melarikan diri dari pekerjaan, tetapi Anda telah bersembunyi di dalam kesibukan pekerjaan.

 

Anda membuktikan nilai diri Anda…

melalui kerja yang tanpa henti,

melalui pencapaian yang tak pernah cukup,

melalui produktivitas yang kita jadikan sebagai identitas.

 

Alkitab mengingatkan kita bahwa:

Nilai kita tidak ditentukan oleh apa yang kita capai, tetapi oleh kasih Allah yang sudah lebih dahulu menerima kita.

 

Hanya ketika kita mengerti kebenaran ini, kita bisa menikmati baik pekerjaan maupun istirahat dengan cara yang memuliakan Allah

 

Dalam Injil Markus 2:27–28, Yesus berkata bahwa Ia adalah Tuhan atas hari SabatTuhan atas tempat Istirahat kita yang sejati.

 

Dan dalam Matius 11:28–30, Yesus berkata:

“Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan.”

 

Bagaimana mungkin suatu kuk itu bisa enak?

Bagaimana mungkin sebuah beban terasa ringan?

 

Bagi setiap orang yang percaya kepada Yesus, kuk yang Tuhan berikan itu seperti balon helium yang mengangkat kita — bukan yang menekan, tetapi menopang kita.

 

  • Hanya di dalam Yesus kita menemukan istirahat yang sejati.
  • Hanya di dalam Yesus pekerjaan tidak lagi membebani dan melelahkan jiwa.
  • Di dalam Kristus, kita dimampukan bekerja tanpa menjadi cemas dan tanpa terkuras habis.

 

Bagaimana Tuhan Yesus dapat memberikan kita semuanya itu?

Yesus dapat memberikan kita kelegaan karena Ia sudah memikul beban kita di kayu salib.

Ia melakukan apa yang tidak pernah bisa kita lakukan.

 

  • Pekerjaan kita tidak akan pernah memberikan nilai diri, namun hanya dapat kita peroleh lewat karya Yesus di atas kayu salib.

 

  • Karena Kristus telah mati bagi Anda, sekarang, oleh iman, pekerjaan Anda sehari-hari—sekecil apa pun itu—adalah bagian dari karya penebusan Allah.

 

Tim Keller (Every Good Endeavor):

 

“Semua manusia akan dilupakan; tak satu pun jerih lelah kita memiliki dampak kekal, dan semua usaha—bahkan yang paling mulia—akan berakhir sia-sia.

Kecuali jika Allah ada. Jika Allah benar ada, jika ada Realitas yang lebih besar dari dunia ini, dan jika hidup tidak berhenti di dunia ini, maka setiap karya yang baik—bahkan yang paling sederhana—yang dilakukan dalam ketaatan atas panggilan-Nya, akan bernilai untuk selamanya.”

 

Ketika Anda memahami apa yang Tuhan Yesus lakukan bagi Anda, barulah Anda bisa menjadi “garam dan terang” di dalam pekerjaan, di rumah, di lingkungan Anda, dan di gereja.

 

Karena Injil, Anda bisa benar-benar tahu dan yakin bahwa apa yang Anda kerjakan tidak sia-sia.

 

Karena Anda diselamatkan oleh kasih karunia dan bukan oleh pekerjaan Anda, maka Anda tidak lagi bekerja untuk pembuktian diri.

Anda bekerja demi kebaikan, kemajuan, dan kesejahteraan orang lain.