Tuan Mana yang Kita Layani, Tuhan atau Mamon
Lukas 16: 1-13
Pembukaan
Hari ini saya akan berkhotbah tentang uang. Saya tahu ini bukan topik yang mudah, karena uang selalu menjadi topik yang sensitif untuk dibahas di gereja. Entah karena kita takut terdengar menghakimi, atau karena masa lalu di mana uang dan gereja pernah dicampuradukkan dengan cara yang salah, sehingga orang menjadi curiga setiap kali seorang pengkhotbah mulai bicara soal harta. Bagi saya sendiri, sebagai pengkhotbah pemula, topik seperti ini terasa seperti tantangan yang sesungguhnya.
Tapi sepanjang masa persiapan khotbah ini, Tuhan justru berbicara kepada saya dengan cara yang tidak saya duga. Ia menunjukkan bahwa apa yang saya kira selama ini saya lakukan untuk kemuliaan-Nya, ternyata seringkali hanya topeng bagi saya untuk mengejar kenyamanan dan kebahagiaan lewat uang. Saya menghabiskan begitu banyak waktu membangun karier, mengejar promosi, bahkan mengambil pekerjaan tambahan, sambil mengorbankan banyak hal lain, keluarga saya, kesehatan saya, dan yang paling penting, hubungan saya dengan Tuhan. Namun saya tetap bisa berkata, ini semua saya lakukan untuk kemuliaan Tuhan. Padahal, sesungguhnya tidak. Saya sedang memperlakukan karier dan uang saya setara dengan apa yang seharusnya saya berikan kepada Tuhan.
Karena itu, lewat khotbah ini, saya sungguh-sungguh mengajak Bapak/Ibu untuk jujur pada diri sendiri, apakah kita benar-benar melayani Tuhan, atau diam-diam kita sedang melayani mamon? Saya percaya banyak dari kita bergumul dengan hal yang sama. Alih-alih menyadari bahwa Tuhanlah yang selama ini memelihara hidup kita, kita justru terus mengejar pengakuan orang lain, lewat mobil apa yang kita kendarai, berapa banyak rumah yang kita miliki, seberapa mapan kita terlihat di mata mereka.
Mari saya mulai dengan sebuah kisah singkat.
Beberapa tahun lalu, seorang pemain bola basket profesional bernama Latrell Sprewell menjadi berita karena mengeluh kepada media tentang kontraknya. Ia baru saja menandatangani kontrak senilai 14,6 juta dolar untuk satu musim, tapi ia merasa itu tidak cukup. Ketika seorang wartawan bertanya mengapa ia tidak fokus membantu timnya memenangkan gelar juara terlebih dahulu, baru memikirkan kontrak yang lebih besar, Sprewell menjawab, "Untuk apa saya membantu mereka menang? Mereka tidak melakukan apa pun untuk saya. Saya harus memberi makan keluarga saya." 14,6 juta dolar, tentu saja, jauh lebih dari cukup untuk memberi makan keluarganya.
Philip Ryken, seorang penafsir Alkitab, menulis tentang kejadian ini, ketika uang sudah menjadi hidup kita, kita tidak akan pernah merasa cukup. Alih-alih memakainya untuk kebaikan rohani, untuk membangun sahabat yang kekal, kita malah menghabiskannya semua untuk diri kita sendiri.
Menariknya, hari ini Tuhan Yesus akan menceritakan salah satu perumpamaan-Nya yang paling sulit dan paling banyak menimbulkan perdebatan di antara para penafsir Alkitab selama berabad-abad. Ia menyampaikannya kepada murid-murid-Nya, kemungkinan besar termasuk para pemungut cukai yang saat itu sedang mendengarkan Dia mengajar, orang-orang yang tentu punya kepentingan pribadi dengan urusan uang dan keuangan. Ceritanya tentang seorang bendahara yang bermasalah dengan uang majikannya. Tapi yang membuat perumpamaan ini begitu sulit adalah bagaimana bendahara ini, meskipun jelas-jelas tidak jujur, justru mendapat pujian di akhir cerita. Mari kita simak baik-baik, dan lihat apa yang sebenarnya Tuhan Yesus ingin ajarkan kepada kita tentang uang.
Mari kita buka Lukas 16:1-13.
Perumpamaan tentang bendahara yang tidak jujur
16:1-9
1Dan Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: ”Ada seorang kaya yang mempunyai seorang bendahara. Kepadanya disampaikan tuduhan, bahwa bendahara itu menghamburkan miliknya. 2Lalu ia memanggil bendahara itu dan berkata kepadanya: Apakah yang kudengar tentang engkau? Berilah pertanggungan jawab atas urusanmu, sebab engkau tidak boleh lagi bekerja sebagai bendahara. 3Kata bendahara itu di dalam hatinya: Apakah yang harus aku perbuat? Tuanku memecat aku dari jabatanku sebagai bendahara. Mencangkul aku tidak dapat, mengemis aku malu. 4Aku tahu apa yang akan aku perbuat, supaya apabila aku dipecat dari jabatanku sebagai bendahara, ada orang yang akan menampung aku di rumah mereka. 5Lalu ia memanggil seorang demi seorang yang berhutang kepada tuannya. Katanya kepada yang pertama: Berapakah hutangmu kepada tuanku? 6Jawab orang itu: Seratus tempayan minyak. Lalu katanya kepada orang itu: Inilah surat hutangmu, duduklah dan buat surat hutang lain sekarang juga: Lima puluh tempayan. 7Kemudian ia berkata kepada yang kedua: Dan berapakah hutangmu? Jawab orang itu: Seratus pikul gandum. Katanya kepada orang itu: Inilah surat hutangmu, buatlah surat hutang lain: Delapan puluh pikul. 8Lalu tuan itu memuji bendahara yang tidak jujur itu, karena ia telah bertindak dengan cerdik. Sebab anak-anak dunia ini lebih cerdik terhadap sesamanya dari pada anak-anak terang.
9Dan Aku berkata kepadamu: Ikatlah persahabatan dengan mempergunakan Mamon yang tidak jujur, supaya jika Mamon itu tidak dapat menolong lagi, kamu diterima di dalam kemah abadi.”
Setia dalam perkara yang kecil
Nasihat
16:10-13
10”Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar. 11Jadi, jikalau kamu tidak setia dalam hal Mamon yang tidak jujur, siapakah yang akan mempercayakan kepadamu harta yang sesungguhnya? 12Dan jikalau kamu tidak setia dalam harta orang lain, siapakah yang akan menyerahkan hartamu sendiri kepadamu?
13 Seorang hamba tidak dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.”
Nah, seperti yang sudah kita duga sebelum membaca, bagian ini memang membingungkan. Bendahara ini jelas-jelas tidak jujur, ia memanipulasi catatan hutang majikannya demi keuntungan dirinya sendiri, tapi justru mendapat pujian, bukan hukuman. Bukankah seharusnya Tuhan Yesus mengecam tindakan seperti ini, bukan menceritakannya seolah-olah ada sesuatu yang bisa kita pelajari darinya?
Tapi begitu kita perhatikan baik-baik, kita akan sadar bahwa ternyata Tuhan Yesus tidak sedang memuji ketidakjujurannya. Ia memuji kecerdikannya, cara dia berpikir dan bertindak cepat demi masa depannya. Dan dari situ, Tuhan Yesus menarik tiga pelajaran penting bagi kita, murid-murid-Nya, tentang bagaimana seharusnya kita memperlakukan uang dan harta.
Tiga pelajaran yang akan kita bahas pada pagi ini adalah:
- Gunakan uang untuk membangun sahabat yang kekal
- Setialah dalam hal-hal yang kecil
- Hanya ada Satu Tuan yang bisa kita layani
Mari kita mulai dengan yang pertama.
1. Gunakan Uang untuk Membangun Sahabat yang Kekal (Ayat 1-9)
Dalam bagian pertama perumpamaan ini, kita bertemu seorang bendahara yang dituduh memboroskan harta majikannya dan akan segera dipecat. Sebelum surat pemberhentiannya berlaku, ia memanggil satu per satu orang yang berutang kepada majikannya, dan mengurangi jumlah utang mereka, seratus tempayan minyak menjadi lima puluh, seratus pikul gandum menjadi delapan puluh. Yang mengejutkan, bukannya marah, tuannya justru memuji akal budi bendahara yang tidak jujur itu, karena ia bertindak dengan cerdik. Kemungkinan besar perumpamaan itu sendiri berakhir di ayat 7, dan penjelasan Yesus dimulai di ayat 8, mencapai titik puncaknya di ayat 9, yang sebenarnya menjadi ayat sentral dari seluruh perumpamaan ini, "Ikatlah persahabatan dengan mempergunakan Mamon yang tidak jujur, supaya jika Mamon itu tidak dapat menolong lagi, kamu diterima di dalam kemah abadi."
Penting kita luruskan sejak awal, tuannya tidak memuji ketidakjujurannya. Dalam bahasa Yunani, bahasa asli Perjanjian Baru, kata yang dipakai untuk "cerdik" di sini adalah phronimos, kata yang sama yang dipakai Yesus di pasal 12:42 untuk menggambarkan bendahara yang setia dan bijaksana. Yang dipuji adalah kecerdikannya berpikir ke depan, bukan cara mencurinya. James Edwards, dalam tafsirannya, menunjukkan sesuatu yang menarik. Kata "bagi dirimu sendiri", heautois, dalam ayat 9 sebenarnya ditempatkan secara tegas di awal kalimat, menunjukkan bahwa perhatian Yesus bukan pada uang itu sendiri, melainkan pada apa yang dilakukan murid-murid-Nya dengan uang itu. Lebih menarik lagi, kata "mamon" sendiri kemungkinan besar berasal dari akar kata Ibrani "aman", akar kata yang sama dengan "amin", yang berarti "menaruh percaya kepada." Jadi mamon bukan sekadar istilah untuk uang, mamon adalah apa pun yang kita percayai dan andalkan selain Allah sendiri.
John Piper, dalam salah satu penjelasannya tentang perumpamaan ini, menunjukkan sesuatu yang menarik. Ia mengaitkan frasa "jika mamon itu tidak dapat menolong lagi" di ayat 9 dengan apa yang Yesus katakan sebelumnya di pasal 12:33, "sediakanlah bagi dirimu pundi-pundi yang tidak buruk, harta di sorga yang tidak akan habis." Jadi kata "tidak jujur" yang melekat pada mamon bukan berarti memakainya itu dosa, melainkan karena mamon adalah bagian dari dunia yang pasti akan gagal dan berakhir, tidak seperti harta yang disimpan di sorga. Piper menyimpulkan, bendahara yang tidak jujur ini memang cerdik mengamankan masa depannya, tapi masa depan itu hanya bertahan puluhan tahun. Sementara jika kita memakai harta kita untuk kekekalan, kita sedang mengamankan sesuatu yang akan kita nikmati selamanya.
Ini penting untuk kita luruskan, sebab ayat 9 bisa terdengar seolah kita diminta "berteman" dengan uang. Bukan itu maksudnya. Kita dipanggil memakai uang untuk membangun sahabat, bukan menjadikan uang itu sendiri sebagai sahabat kita. Bendahara ini tahu waktunya hampir habis, dan ia memakai apa yang masih ada di tangannya, sekalipun sudah bukan miliknya lagi sepenuhnya, untuk mengamankan masa depannya. Ia mengorbankan sedikit keuntungan sekarang demi punya sahabat yang akan menyambutnya nanti ketika ia kehilangan pekerjaan. Seperti kata Edwards menyimpulkan, murid-murid Kristus, seperti bendahara yang tidak jujur ini, seharusnya memakai akal dan harta mereka dengan cara yang berkenan dan melayani Allah.
Uskup Ambrosius dari abad keempat pernah berkata, "Pangkuan orang miskin, rumah para janda, mulut anak-anak, itulah lumbung-lumbung yang bertahan selamanya." Betapa indahnya gambaran ini, harta yang kita pakai untuk menolong sesama sebenarnya sedang kita simpan di tempat yang tidak akan pernah rusak atau dicuri. Kalau Ambrosius menunjukkan ke mana seharusnya harta itu mengalir, Randy Alcorn menunjukkan mengapa Tuhan memberi kita lebih banyak untuk mengalirkannya, ia menulis dengan tajam, terlalu sering kita menganggap Tuhan menambah penghasilan kita untuk menaikkan standar hidup kita, padahal tujuan-Nya justru untuk menaikkan standar memberi kita.
Di reruntuhan Holyrood Abbey di Edinburgh, ada sebuah batu nisan seorang bernama Thomas Lowes, yang tulisannya masih bisa dibaca sampai hari ini. Batu nisan itu menceritakan bagaimana ia lahir dalam kekayaan, mengalami masa kehilangan harta yang berat selama bertahun-tahun, lalu dipulihkan kembali pada kekayaannya semula. Namun tidak lama setelah dipulihkan, Tuhan mengambil semuanya sekali lagi, kali ini bersama hidupnya sendiri. Di bagian akhir batu nisan itu, tertulis pesan langsung kepada siapa pun yang membacanya, "Biarlah engkau diajar oleh kisah ini, untuk mencari harta yang tidak akan pernah gagal, dan sukacita yang ada di sebelah kanan Allah selamanya, anugerah Allah yang penuh kasih karunia, yang dinikmati melalui iman dalam Yesus Kristus, Juruselamat kita." Sama seperti bendahara dalam perumpamaan yang kehilangan pekerjaannya dalam sekejap, Thomas Lowes kehilangan seluruh kekayaannya, bahkan hidupnya sendiri, tidak lama setelah dipulihkan. Satu-satunya harta yang tidak bisa direbut oleh keadaan apa pun, bahkan oleh kematian, adalah harta yang sudah kita investasikan untuk kekekalan.
Mari kita renungkan sebentar. Berapa banyak waktu dan energi yang kita pakai memikirkan dan merencanakan keamanan finansial kita, dana pensiun, tabungan, warisan untuk anak-anak, dibandingkan dengan waktu yang kita pakai memikirkan hidup kekal kita? Bendahara yang tidak percaya Tuhan ini saja begitu serius memikirkan masa depannya yang hanya beberapa tahun. Tetapi sering kali kita, yang percaya ada hidup kekal yang sesungguhnya, justru lebih santai memikirkannya.
Dan di sinilah Injil berbicara. Bendahara ini mengorbankan sedikit keuntungan supaya punya sahabat. Kristus melakukan jauh lebih besar dari itu, Ia mengorbankan segalanya, kekayaan-Nya sebagai Allah, untuk menjadikan kita, yang miskin secara rohani, sahabat-sahabat-Nya yang layak diterima ke dalam tempat tinggal yang kekal. Kita tidak perlu mengusahakan jalan masuk kita sendiri ke rumah kekal itu lewat kecerdikan kita mengelola uang. Kristus sudah membukanya lewat pengorbanan-Nya.
Karena itu, bagi keluarga muda, ini bisa berarti mulai membiasakan anak-anak memberi sejak kecil, bukan sekadar menabung untuk diri sendiri. Bagi yang sudah berkeluarga dengan remaja, ini kesempatan mengajarkan mereka bahwa uang adalah alat untuk masa depan kekal, bukan tujuan hidup. Dan bagi yang sudah di usia lima puluhan ke atas, pertanyaannya menjadi, warisan seperti apa yang sedang saya siapkan, warisan yang hanya bernilai di dunia ini, atau warisan yang akan menyambut saya di hidup yang kekal nanti?
Tapi warisan kekal semacam ini tidak dibangun dalam satu keputusan besar. Ia dibangun dari kesetiaan hari demi hari, bahkan dalam hal-hal yang kelihatannya terlalu kecil untuk diperhatikan. Dan itulah yang Yesus bicarakan selanjutnya.
2. Setia dalam Perkara yang Kecil (Lukas 16:10-12)
Setelah perumpamaan tentang bendahara selesai, Yesus menambahkan dua ajaran singkat tentang uang, dan yang pertama berbunyi, "Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak jujur dalam perkara-perkara kecil, ia tidak jujur juga dalam perkara-perkara besar" (ay. 10). Ini adalah pernyataan tentang karakter. Karakter tidak ditentukan oleh besar-kecilnya sesuatu atau ada-tidaknya imbalan, melainkan oleh satu sikap hati yang konsisten, entah sedang diawasi atau tidak, entah hal itu kelihatan penting atau remeh.
Lalu Yesus menegaskannya lagi dengan lebih tajam dalam ayat 11-12, "Jadi, jikalau kamu tidak setia dalam hal Mamon yang tidak jujur, siapakah yang akan mempercayakan kepadamu harta yang sesungguhnya? Dan jikalau kamu tidak setia dalam harta orang lain, siapakah yang akan menyerahkan hartamu sendiri kepadamu?" Jadi di sini Tuhan sedang mengingatkan kita, cara kita mengelola hal-hal kecil, uang, waktu, tanggung jawab yang kelihatan sepele, sebenarnya sedang menyingkapkan siapa kita sesungguhnya, jauh sebelum hal-hal besar dipercayakan kepada kita.
Philip Ryken membuat pengamatan yang mengejutkan di sini. Kebanyakan dari kita menganggap uang dan harta duniawi sebagai sesuatu yang besar, bukan hal kecil. Tapi di mata Allah, justru itulah salah satu area kesetiaan sehari-hari yang "kecil." Yang "besar" adalah harta yang sesungguhnya, harta Kerajaan Allah, tempat umat-Nya kelak memerintah bersama Kristus. Kalau kita tidak setia dengan sesuatu sekecil penghasilan duniawi kita, bagaimana mungkin Allah bisa mempercayakan kita dengan harta-Nya di sorga? Ryken juga menunjukkan sesuatu yang menarik dari ayat 12, Yesus membandingkan apa yang menjadi milik orang lain dengan apa yang menjadi milik kita sendiri, bukan sebaliknya. Ini karena kita sebenarnya hanyalah pengelola, bukan pemilik. Apa yang kita miliki sesungguhnya bukan milik kita, itu milik Allah. Seperti bendahara dalam perumpamaan ini, kita sedang menjaga sesuatu untuk Tuan kita.
J.C. Ryle, seorang uskup dari abad kesembilan belas, menulis sesuatu yang keras namun jujur tentang ini, "Ketidaksetiaan dalam urusan keuangan adalah bukti nyata dari keadaan jiwa yang busuk." Kalimat ini mungkin terasa terlalu tajam, tapi justru itulah yang Yesus tegaskan, cara kita mengelola uang bukan sekadar soal keuangan, itu cermin dari kondisi hati kita yang sesungguhnya.
Martin Luther pernah menuliskan gambaran yang indah tentang ini. Ia berkata, kita seharusnya memperlakukan segala harta duniawi ini seperti seorang tamu yang sedang dalam perjalanan dan singgah semalam di sebuah penginapan. Ia hanya menerima makanan dan tempat tidur dari tuan rumah, dan ia tidak pernah berkata bahwa milik tuan rumah itu adalah miliknya. Begitu jugalah seharusnya kita memperlakukan harta duniawi kita, seolah-olah bukan milik kita, menikmati secukupnya untuk menopang tubuh, lalu memakai selebihnya untuk menolong sesama kita. Sebab hidup orang percaya hanyalah singgah semalam, karena kita sedang menuju rumah kekal, di mana Bapa kita berada.
Philip Ryken memberi contoh yang menarik tentang ini. Pelatih basket John Wooden, yang sepuluh kali membawa timnya juara nasional di UCLA, selalu memulai latihan pertamanya setiap tahun bukan dengan strategi permainan, melainkan dengan mengajari pemainnya cara memakai kaus kaki yang benar, dua lapis, dengan lipatan yang rapi, supaya tidak lecet. Ia tidak menjadi juara karena ahli soal kaus kaki. Ia menjadi juara karena punya prinsip yang sama di setiap level, kesetiaan pada hal yang paling kecil sekalipun akan menentukan kesetiaan pada hal yang besar.
Prinsip yang sama berlaku dalam kehidupan rohani kita. Setialah melakukan apa pun yang Tuhan panggil kita untuk lakukan. Sekalipun apa yang kita kerjakan bagi Tuhan terasa tidak berarti, kerjakanlah dengan sebaik-baiknya. Bekerjalah sama keras ketika tidak ada yang melihat seperti ketika ada yang mengawasi. Berdoalah memohon pertolongan Tuhan. Perhatikan dengan baik orang-orang di sekitar kita. Bersyukurlah atas tanda berkat Tuhan sekecil apa pun itu. Jangan menyerah pada godaan-godaan kecil yang mengikis kekudusan kita. Tepatilah janji. Penuhi komitmen kita. Selesaikan apa yang sudah kita mulai.
Coba kita renungkan, hal kecil apa dalam hidup kita yang sering kita anggap tidak penting sehingga kita membiarkan diri berkompromi di situ? Mungkin cara kita bicara ketika sedang lelah, cara kita melaporkan sesuatu yang menguntungkan diri sendiri padahal kita tahu itu tidak sepenuhnya benar, atau kebiasaan kecil yang kita bela dengan alasan "toh tidak ada yang tahu." Kita sering berpikir kesetiaan besar akan muncul dengan sendirinya ketika saatnya tiba, padahal Yesus justru berkata sebaliknya, kesetiaan dibentuk justru di hal-hal kecil yang tidak terlihat.
Saya sendiri pernah mengalami ini secara langsung. Di minggu kedua saya bekerja di posisi yang baru, saya mengajukan cuti tanpa gaji untuk menghadiri sebuah konferensi yang sudah saya pesan berbulan-bulan sebelumnya, dan semuanya saya lakukan sesuai prosedur serta disetujui. Tapi pada siklus gaji pertama setelah saya cuti, saya kaget karena gaji saya tetap masuk penuh, seolah saya tidak sedang cuti tanpa gaji. Di situlah godaan itu datang. Saya bisa saja diam saja dan berkata, saya sudah melakukan semuanya dengan benar, ini murni kesalahan sistem, bukan salah saya. Secara teknis itu benar. Tapi tidak ada damai sejahtera dalam hati saya. Saya percaya posisi ini adalah pemberian Tuhan, jadi untuk apa saya memulainya dengan sesuatu yang tidak jujur, sekecil apa pun itu? Akhirnya saya melaporkan kesalahan itu kepada manajer saya dan pihak payroll, dan mereka bahkan bertanya apakah tidak apa-apa jika penyesuaiannya dilakukan di siklus gaji berikutnya. Saya jawab, tidak apa-apa. Justru setelah saya melapor, bukan sebelum, saya merasakan damai yang luar biasa.
Di sinilah kita perlu Kristus, karena kita tahu, kalau jujur, seberapa sering kita gagal justru di hal-hal kecil ini. Tapi Kristus adalah Bendahara Agung yang tidak pernah sekalipun tidak setia, bahkan pada hal yang paling kecil sekalipun. Ketaatan-Nya yang sempurna, sampai ke detail terkecil, itulah yang menutupi ketidaksetiaan kita, dan justru karena kesetiaan-Nya itulah kita, yang sering gagal dalam hal kecil, tetap dipercayakan menjadi pengelola hal-hal yang jauh lebih besar dalam kerajaan-Nya, bukan karena rekam jejak kita, tapi karena rekam jejak-Nya.
D.L. Moody pernah berkata dengan singkat, karakter adalah siapa dirimu ketika berada dalam gelap, ketika tidak seorang pun melihat. Karena itu, mari kita periksa kembali hal-hal kecil dalam hidup kita. Ketika atasan memberi kita otonomi mengatur waktu kerja sendiri, apakah kita tetap bekerja penuh sesuai yang seharusnya, atau justru datang terlambat dan pulang lebih cepat karena tahu tidak ada yang mengawasi? Ketika kita bekerja dari rumah, apakah jam kerja kita benar-benar dipakai untuk bekerja, atau diam-diam kita pakai untuk urusan pribadi sambil tetap dibayar penuh? Kejujuran dalam laporan pekerjaan, ketepatan dalam membayar tagihan, kebiasaan kecil yang selama ini kita anggap tidak akan pernah ketahuan. Kesetiaan yang Tuhan cari bukan dimulai dari hal besar, tapi dari hal kecil yang setia hari ini, bahkan ketika tidak ada seorang pun yang melihat.
Tapi ada pertanyaan yang lebih dalam lagi di balik soal kesetiaan ini. Kesetiaan itu sebenarnya soal kepada siapa kita mengabdi. Dan di situlah Yesus melangkah lebih jauh lagi dalam ayat berikutnya, dengan sebuah pernyataan yang sangat tegas, bahwa sebenarnya hanya ada satu Tuan yang bisa benar-benar kita layani sepenuhnya.
3. Hanya Ada Satu Tuan yang Bisa Kita Layani (Lukas 16:13)
Bob Dylan pernah menyanyikan sebuah lagu dengan lirik, "kamu harus melayani seseorang." Entah disadari atau tidak, ia sedang menyentuh kebenaran yang sama dengan yang Yesus tegaskan di ayat ini. Yesus menyimpulkan dua ajaran sebelumnya dengan sebuah pernyataan yang sangat tegas, "Seorang hamba tidak dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan mengabaikan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon" (ay. 13).
Martin Luther, lima ratus tahun yang lalu, pernah menulis peringatan yang masih relevan sampai hari ini. Ia berkata, "Banyak orang berpikir mereka memiliki Allah dan segala yang mereka butuhkan ketika mereka memiliki uang dan harta benda. Mereka menaruh kepercayaan di situ dan membanggakannya dengan begitu keras kepala dan merasa aman sehingga mereka tidak peduli pada siapa pun. Sesungguhnya orang seperti itu juga memiliki Allah, bernama mamon, yaitu uang dan harta benda, yang menjadi sandaran seluruh hatinya. Itulah berhala yang paling umum di bumi." Betapa tajamnya pernyataan ini, mamon bisa menjadi allah kita bahkan tanpa kita pernah menyadarinya, tanpa pernah kita membungkuk secara terang-terangan di hadapannya.
Thabiti Anyabwile menjelaskan bahwa ayat ini sesungguhnya sedang menantang kita sebagai orang percaya untuk mengambil sikap yang jelas, kita tidak bisa melayani dua tuan, kita tidak bisa menyembah dua allah, kita harus memutuskan, akankah kita melayani Allah palsu berupa uang dan harta, yang sesungguhnya adalah penyembahan berhala, atau akankah kita melayani satu-satunya Allah yang hidup dan benar, yang memiliki segala sesuatu? Keputusan inilah yang sebenarnya menentukan apakah kita pengelola yang setia atau tidak jujur. Siapa yang sedang kita layani, Allah atau uang? Kita tidak bisa setia kepada keduanya sekaligus, setia kepada yang satu berarti membenci yang lain, tidak ada jalan tengah. Pengelolaan pada dasarnya adalah soal penyembahan, dan kita sedang menyatakan siapa Allah kita setiap kali kita mengambil keputusan soal uang, apakah uang yang menjadi tuan, atau Kristus yang menjadi Tuhan.
James Edwards menjelaskan dengan tajam apa yang sebenarnya terjadi di ayat ini, dalam ayat 13, mamon dinaikkan ke status ilahi, ditempatkan setara dan berlawanan dengan Allah sendiri. Inilah ketegangan yang tidak bisa kita hindari sebagai murid Kristus. Ketika harta dan kekayaan menguasai kita, kita sudah kehilangan bahkan kecerdikan yang dimiliki "orang-orang dunia ini" sekalipun, dan satu-satunya cara menempatkan mamon pada tempatnya yang benar adalah memastikan hanya Allah yang menjadi Tuan dan Penguasa hidup kita, dan menyatakan hal itu lewat cara kita memakai uang dan harta dalam pelayanan kepada-Nya.
Ini bukan sekadar nasihat untuk berhati-hati, ini pernyataan tentang mustahilnya membagi loyalitas tertinggi kita. Kita boleh saja punya dua pekerjaan, dua hobi, bahkan dua rumah, tapi kita tidak bisa punya dua tuan sekaligus yang sama-sama menuntut kesetiaan penuh atas hidup kita. Philip Ryken menulis dengan tajam, setiap kali kita mengeluarkan uang dari dompet kita, sebenarnya kita sedang menarik keluar sesuatu dari hati kita, karena cara kita memakai uang selalu menyingkapkan siapa yang benar-benar kita layani.
Mari kita jujur pada diri sendiri di titik ini. Kita mungkin tidak pernah secara terang-terangan menyembah uang seperti berhala. Tapi coba perhatikan, tuan mana yang sebenarnya kita layani ketika kenyamanan dan kejujuran saling berbenturan? Tuan mana yang menang ketika kita harus memilih antara melakukan yang benar dengan risiko kehilangan sesuatu, atau diam saja dan tetap nyaman?
Saya pernah ada di titik itu. Di pekerjaan saya sebelumnya, saya tahu ada yang tidak beres di tempat saya bekerja, sesuatu yang seharusnya saya suarakan. Tapi saya memilih diam, karena kenyamanan gaji dan posisi saat itu lebih nyata di depan mata saya daripada konsekuensi dari berdiri di atas kebenaran. Saya bahkan meyakinkan diri saya sedang "setia" pada tanggung jawab dan keluarga saya, padahal sebenarnya saya sedang setia pada rasa aman yang diberikan uang itu. Yang menguatkan saya, Tuhan tidak membiarkan saya nyaman di situ. Ia menggoncang, dan meskipun saya keras kepala, Ia tetap membawa saya keluar, meskipun lewat jalan yang tidak nyaman.
Di sinilah kita membutuhkan Kristus, bukan sekadar sebagai teladan untuk melayani satu tuan dengan lebih baik, tapi sebagai satu-satunya Tuan yang benar-benar layak kita layani. Ingat berapa banyak kekayaan yang Ia tinggalkan untuk menjadi Juruselamat kita, dan berapa besar harga yang Ia bayar dengan darah-Nya sendiri di kayu salib bagi dosa kita. Timothy Keller pernah berkata dalam bukunya Counterfeit Gods, "Sejauh mana kita benar-benar memahami Injil, sejauh itu pula uang tidak lagi punya kuasa untuk memerintah kita." Kristus tidak menuntut kita melayani-Nya dari rasa takut kehilangan, seperti tuntutan mamon yang selalu haus lebih banyak. Ia justru sudah lebih dulu melayani kita, sampai mati bagi kita, supaya kita bisa melayani-Nya bukan karena terpaksa, tapi karena kasih yang sudah lebih dulu Ia berikan.
Karena itu, mari kita berhenti sejenak dan bertanya jujur pada diri sendiri, tuan mana yang sebenarnya memerintah hidup saya hari ini? Kalau selama ini saya diam-diam melayani kenyamanan dan keamanan finansial, hari ini adalah kesempatan untuk kembali dan menyerahkan kembali tahta hati saya sepenuhnya kepada Kristus, satu-satunya Tuan yang layak.
Implikasi
Kalau hari ini adalah kesempatan untuk menyerahkan tahta hati kita kepada Kristus, pertanyaannya menjadi, apa artinya itu secara nyata, mulai besok pagi? Randy Alcorn pernah menulis, apa yang kita lakukan dengan sumber daya kita dalam hidup ini sebenarnya adalah autobiografi kita, catatan yang menceritakan siapa diri kita yang sesungguhnya, jauh lebih jujur daripada apa yang kita ucapkan dengan mulut. Carl F.H. Henry pernah ditanya tentang kelemahan gereja Barat dalam soal kemakmuran, dan ia menjawab, Allah tidak membenci kekayaan, sebab Ia sendiri yang memberikannya, yang Ia benci adalah penyalahgunaannya, dan Ia memberi upah kepada kesetiaan pengelolaan. Dari tiga hal yang kita pelajari hari ini, ada beberapa penerapan praktis yang bisa kita bawa pulang, satu demi satu:
- Mulai dari yang paling dasar, coba renungkan berapa banyak waktu dan energi yang kita pakai memikirkan keamanan finansial kita, dibandingkan dengan waktu yang kita pakai memikirkan masa depan kekal kita. Ini langkah pertama menanam bagi masa depan kekal, bukan sekadar kenyamanan hari ini.
- Setelah itu, turun lebih dalam ke hal-hal kecil yang sering luput dari perhatian kita, kejujuran dalam laporan pekerjaan, ketepatan memakai waktu kerja, cara membayar tagihan. Sebab kesetiaan pada hal kecil yang tidak terlihat itulah yang sebenarnya membentuk siapa kita, jauh sebelum hal-hal besar dipercayakan kepada kita.
- Dan pada akhirnya, semua ini bermuara pada satu pertanyaan yang lebih dalam, tuan mana yang sebenarnya sedang saya layani? Minggu ini, ambil satu keputusan soal uang secara sadar sebagai ibadah, bukan sekadar transaksi, dan biarkan itu menjadi pernyataan bahwa Kristus, bukan uang, yang menjadi Tuan atas hidup Anda.
Kalau autobiografi hidup kita ditulis lewat cara kita memakai uang dan waktu, pertanyaannya menjadi, cerita seperti apa yang sedang kita tulis minggu demi minggu?
Penutup
Cerita yang Tuhan ingin kita tulis sebenarnya sederhana. Dari perumpamaan ini, Tuhan mengingatkan kita bahwa segala yang kita miliki, uang, waktu, kemampuan, sebenarnya bukan milik kita. Semuanya adalah titipan yang dipercayakan kepada kita, untuk dipakai membangun kerajaan-Nya, bukan kerajaan kita sendiri. Dan seperti yang sudah kita lihat di Poin 3, ketika kita membiarkan uang menguasai hati kita, kita sebenarnya sedang menyembah tuan yang lain, dan itulah sebabnya Allah kita, yang mengasihi kita, tidak mau berbagi tahta hati kita dengan siapa pun atau apa pun, sama seperti seorang suami yang cemburu bukan karena ingin mengontrol, tapi karena begitu mengasihi istrinya dan tidak mau kehilangan dia kepada yang lain.
Dan inilah yang membuat semuanya berbeda. Kita gagal menjadi pengelola yang setia, kita sering melayani tuan yang salah, tapi Kristus adalah Pengelola Agung yang sempurna setia, sampai Ia rela menyerahkan yang paling berharga bagi-Nya, Anak-Nya sendiri, hanya untuk menyelamatkan orang berdosa seperti kita, yang selama ini melayani tuan yang salah. Kesetiaan-Nya yang sempurna itulah yang menutupi ketidaksetiaan kita, dan karena itu kita tidak perlu membuktikan diri layak dulu baru datang kepada-Nya. Justru karena Dia sudah lebih dulu memberikan segalanya bagi kita, kita bisa datang hari ini apa adanya, dan menyerahkan kembali tahta hati kita sepenuhnya kepada-Nya sebagai Tuhan dan Juruselamat kita, satu-satunya Tuan yang layak kita layani.
Sebelum kita berdoa, saya mengajak Bapak/Ibu merenungkan satu hal ini dalam hati: kompromi kecil seperti apa yang mungkin sedang saya bela atau anggap wajar sekarang, yang sebenarnya menunjukkan siapa yang benar-benar menjadi tuan atas hidup saya?
Kasih karunia yang sudah kita terima inilah yang memampukan kita mempercayakan seluruh hidup kita, keuangan kita, kesehatan kita, masa depan kita, sepenuhnya kepada Allah, bukan kepada mamon yang hanya bisa menipu dan tidak pernah bisa memuaskan. Jangan biarkan mamon duduk di tahta yang hanya layak diduduki Kristus.
Mari kita berdoa.
Discussion Questions:
- Apa yang paling berkesan bagi Anda dari khotbah ini?
- Berapa banyak waktu dan energi yang Anda pakai untuk memikirkan keamanan finansial, dibandingkan dengan waktu yang Anda pakai untuk memikirkan masa depan kekal? Mengapa?
- Kompromi kecil seperti apa yang mungkin sedang Anda bela atau anggap wajar sekarang, yang sebenarnya menunjukkan siapa yang benar-benar menjadi tuan atas hidup Anda?
- Bagaimana Injil memampukan Anda untuk melayani Tuhan dan bukan Mamon?
