Warisan yang Allah Berikan Tidak Dapat Dibayangkan
“Warisan Yang Allah Berikan, Tidak Dapat Dibayangkan”
(“Dan jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris, maksudnya orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah”)
Mengapa kita mengalami kesulitan untuk memiliki kehidupan doa?
Kita belajar dari Yesus yang mengajar para murid-Nya berdoa - Lukas 11:1-13.
Yesus memberikan fondasinya: “Apabila kamu berdoa, katakanlah: ‘Bapa.’
Kemudian Ia menyampaikan permohonan vertikal: “dikuduskanlah nama-Mu” dan “datanglah Kerajaan-Mu.”
Yesus menjelaskan permohonan horizontal: (1)“Berikanlah kami setiap hari roti kami yang secukupnya”, (2)“Ampunilah dosa-dosa kami sebab kami’pun mengampuni setiap orang yang berdosa terhadap kami,” (3)“Dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan.”
DA Carson berkata, “jika ingin mempermalukan orang Kristen pada umumnya, mintalah mereka menceritakan bagaimana kehidupan doa pribadi mereka.”
Sebagai orang Kristen, kita tahu bahwa kita perlu berdoa tetapi berapa banyak dari kita yang mengalami kesulitan dalam kehidupan doa? Dalam hal berdoa, kebanyakan dari kita memiliki nilai C bahkan D. Mayoritas orang Kristen saat ini sangat lemah dalam doa. Kita hidup dalam dunia yang tidak berdoa, gereja yang tidak berdoa dan inilah yang harus menjadi perhatian kita.
John Wesley berkata, “saya yakin Tuhan tidak melakukan apa’pun di dunia ini kecuali jawaban atas doa.” Jika pernyataan ini benar, maka mungkin alasan Tuhan tidak melakukan apa’pun dalam hidup kita adalah karena kita tidak berdoa.
Kita mengalami kesulitan untuk berdoa adalah karena kita tidak berpikir bahwa doa itu bekerja. Ada kalanya kita berdoa dan Tuhan langsung menjawab. Kita berdoa untuk kesembuhan anak dari kanker dan sembuh total. Kita berdoa untuk keselamatan orang tua, beberapa bulan kemudian mereka menerima Tuhan. Dan kita berkata, “wow, indah sekali. Tuhan menjawab doa-doa kita. Dia mendengarkan kita. Tuhan luar biasa!” Bahkan ada kalanya kita lupa berdoa dan hal-hal yang kita lupa doakan dan tetap terjadi. Kita berjanji kepada sahabat kita, berdoa agar Tuhan melembutkan hati suaminya. Beberapa bulan kemudian sahabat tsb berterima kasih karena telah mendoakan suaminya; kita berkata, “Puji Tuhan, Tuhan menjawab doa kita,” sambil berpikir, “Haha... aku lupa berdoa buat sahabatku.”
Berapa banyak yang pernah melakukan hal ini? Betapa kita semua ini orang munafik tetapi setidaknya sesuatu masih terjadi. Ada saat lain ketika kita berdoa dengan tekun, sungguh-sungguh percaya kepada Tuhan, kita meminta orang lain berdoa bersama dengan kita dan tidak ada yang berubah.
Kita berdoa untuk tidak cerai, tetap bercerai; kita berdoa agar memiliki anak, tetap belum punya anak; kita berdoa untuk orang yang kita kasihi, tetap meninggal; kita berdoa untuk pasangan hidup anak kita, tetap masih single. Karena itu kita mulai berpikir, “aku tidak yakin apakah doa benar-benar bekerja, aku juga tidak yakin apakah ada hubungan antara doaku dengan apa yang terjadi.” Doa’ku tidak mengubah apa’pun.
Tuhan berdaulat dan Dia melakukan apa’pun yang Dia inginkan dengan atau tanpa doaku.” Kita berhenti berdoa atau mungkin masih berdoa tetapi bersifat ritual. Kita meminta tetapi tidak berharap menerima. Marilah kita lihat apa yang Yesus ajarkan.
Doa yang benar adalah mencari Tuhan, bukan mencari keuntungan dari Tuhan.
Doa yang terutama adalah tentang Tuhan dan kemuliaan nama-Nya. Hal ini sangat penting untuk kita mengerti. Kalau kita berdoa dengan tidak mengingat siapa Tuhan, kita tidak akan meminta dengan benar. Permintaan kita akan dipenuhi dengan nama, kerajaan dan kehendak kita; bukan nama, kerajaan dan kehendak Tuhan.
Yesus menjawab keraguan para murid-Nya dan kita juga, dengan memberi perumpamaan untuk meyakinkan bahwa doa mendatangkan hasil!
l Tuhan ingin menjawab doa kita, lebih dari yang kita ingin minta kepada-Nya.
l Tuhan ingin memberkati kita, lebih daripada yang kita minta kepada-Nya.
Alasan mengapa sulit bagi kita untuk berdoa adalah karena kita lupa bahwa Tuhan bukan hanya Pencipta alam semesta; Dia adalah Bapa yang baik.
1. Meminta dengan tidak malu - Lukas 11:5-8
2. Meminta dengan tekun - Lukas 11:9-10
3. Meminta dengan penuh kepercayaan - Lukas 11:11-13.
1. Meminta dengan tidak malu - Lukas 11:5-8
5 Lalu kata-Nya kepada mereka: ”Jika seorang di antara kamu pada tengah malam pergi ke rumah seorang sahabatnya dan berkata kepadanya: Saudara, pinjamkanlah kepadaku tiga roti,
6 sebab seorang sahabatku yang sedang berada dalam perjalanan singgah ke rumahku dan aku tidak mempunyai apa-apa untuk dihidangkan kepadanya;
7 masakan ia yang di dalam rumah itu akan menjawab: Jangan mengganggu aku, pintu sudah tertutup dan aku serta anak-anakku sudah tidur; aku tidak dapat bangun dan memberikannya kepada saudara.
8 “Aku berkata kepadamu: Sekalipun ia tidak mau bangun dan memberikannya kepadanya karena orang itu adalah sahabatnya, namun karena sikapnya yang tidak malu itu, ia akan bangun juga dan memberikan kepadanya apa yang diperlukannya.”
Pada abad pertama Israel, keramahan atau hospitality sangatlah penting. Ketika ada tamu yang menginap, maka anda harus memperlakukan dengan baik. Anda harus menyediakan makanan dan tempat tinggal dengan sukarela. Jika seorang tamu datang dan anda tidak memiliki makanan, itu sangat memalukan.
Kita lihat apa yang terjadi dalam kisah tsb, “Aku berkata kepadamu: Sekalipun ia tidak mau bangun dan memberikannya kepadanya karena orang itu adalah sahabatnya, namun karena sikapnya yang tidak malu itu, ia akan bangun juga dan memberikan kepadanya apa yang diperlukannya.”
Kata ‘tidak malu’ berasal dari bahasa Yunani ‘anaideia’ = meminta dan bertindak dengan tidak sopan, untuk mendapatkan hasil dengan cara apapun tanpa malu.
Ilustrasi cerita kehidupan sehari-hari di jaman itu, bisa di‘umpamakan dalam persahabatan Johan dan Willy; Johan tidak malu, dia melakukannya untuk mendapatkan apa yang dia inginkan tanpa mempedulikan orang lain.
Saya yakin kita semua memiliki ‘seseorang seperti Johan’ dalam hidup kita. Willy memberi apa yang Johan minta bukan karena ingin membantu tetapi supaya Johan berhenti menggangu dia. Ini bukan karena kasih persahabatan tetapi karena Willy ingin Johan cepat pergi. Inti cerita ini bukanlah bahwa kita harus meminta sesuatu kepada teman kita dengan tidak malu… “cara Johan meminta kepada Willy dengan tidak malu adalah cara yang seharusnya anda lakukan sewaktu anda berdoa kepada Tuhan.” Yesus tidak berkata bahwa Tuhan itu seperti Willy, Tuhan bukanlah teman yang tidak mau diganggu oleh permintaan temannya di tengah malam.
Yesus membuat sebuah kontras, “Dia ingin anda membawa permintaan anda kepada-Nya dengan tidak malu.” Jika anda yang tidak mau memberi, bisa memberi karena teman anda meminta dengan tidak malu, betapa lebih Yesus akan memberi permintaan anda. Yesus ingin agar kita mengganggu-Nya dengan tidak malu, Dia senang diganggu; Dia tidak tersinggung dengan sikap kita yang tidak malu. Karena Tuhan adalah Bapa kita dan kita adalah anak-anakNya.
Para bapa, coba pikirkan ‘siapa yang berani membangunkan anda dan minta segelas air pada jam 3 pagi dan anda melakukannya?’ Itu pasti bukan istri anda, jika istri anda membangunkan jam 3 pagi dan minta segelas air, anda akan berpura-pura tidak mendengar atau berkata, “untuk apa Tuhan memberimu tangan dan kaki?” Tetapi jika anak anda yang meminta, anda akan bangun dan mengambilkan segelas air.
Kita dapat menggunakan apa yang kita ketahui tentang Tuhan untuk menghentikan apa yang Tuhan ingin kita lakukan. Tuhan berdaulat. Kita tahu Tuhan dapat melakukan apa saja dan tidak ada satu’pun yang terjadi di luar kendali-Nya.
Kita sering membaca artikel “Sebelum mengubah orang lain dan situasimu, Yesus ingin mengubah hidupmu terlebih dahulu.” Ini perkataan benar tetapi jika tidak berhati-hati, kita dapat berfokus pada satu sisi kebenaran dan mengubahnya menjadi, “Yesus hanya ingin mengubah hidupmu dan bukan situasimu.”
Anda lihat apa yang terjadi? “Siapa yang berkata bahwa Yesus tidak ingin mengubah situasi hidupmu?”
“Doa bukan hanya mengubah hidup anda tetapi juga mengubah situasi anda.”
Apakah kita berani datang kepada Tuhan dan meminta dengan tidak malu? Atau apakah kita menggunakan kedaulatan Tuhan sebagai alasan bagi kita untuk tidak meminta? Ketika kita menolak meminta kepada Tuhan dengan tidak malu, kita merendahkan kemurahan hati Tuhan kepada kita.
Ilustrasi Alexander the Great “..mengapa kamu memberi jumlah uang yang sangat besar dan kamu begitu senang?” Perhatikan jawaban Alexander, “dia telah memberi kehormatan besar terhadapku dengan meminta jumlah uang sebesar itu, dia percaya bahwa aku sangat kaya, murah hati dan dia tahu, apa artinya menjadi jenderalku.”
Gereja Tuhan, apakah kita tahu artinya menjadi anak Allah? Sering kali kita gagal untuk meminta dengan tidak malu adalah karena kita lupa siapa Bapa Surgawi kita.
2. Meminta dengan tekun - Lukas 11:9-10
9 Oleh karena itu Aku berkata kepadamu: Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu.
10 Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan.
Yesus berkata, “Aku ingin kamu meminta, Aku ingin kamu mencari dan Aku ingin kamu mengetuk. Karena jika kamu meminta, kamu akan menerima; jika kamu mencari, kamu akan mendapat. Dan jika kamu mengetuk, pintu akan dibukakan.”
Dimulai dengan meminta, ini berarti kita membawa permintaan kita kepada-Nya dengan tidak malu. Kita dapat langsung meminta kepada-Nya. Kemudian mencari adalah sebuah tindakan untuk mengejar apa yang kita minta. Ini berarti kita tidak berdiam diri, kita melakukan sesuatu tentang apa yang kita inginkan; ini melibatkan usaha. Dan terakhir mengetuk, ini berbicara tentang intensitas.
Yesus tidak berkata, “Aku ingin kamu meminta, mencari dan mengetuk,” tetapi Yesus berkata, “Aku ingin kamu terus meminta, terus mencari dan terus mengetuk. Aku ingin kamu melakukannya dengan tekun karena Tuhan mendengarkan’mu dan Dia akan bertindak untuk’mu.”
Ini adalah undangan Yesus. Maukah kita terus mengetuk pintu surga sampai Tuhan memberi apa yang kita minta? Maukah kita terus meminta dengan tekun sampai Dia menjawab? Kabar baiknya Yesus berbeda dengan orang tua pada umumnya. Kita mungkin meminta sekali atau dua kali, kemudian kita berhenti karena kita tidak desperate. Jika kita tidak meminta dengan tekun, ini menunjukkan bahwa kita tidak benar-benar membutuhkan pertolongan Tuhan. Kita yakin bahwa kita memiliki apa yang kita perlukan; kita memiliki waktu, uang dan keterampilan. Kita gagal menyadari betapa kita sangat membutuhkan pertolongan-Nya.
Kita tidak percaya ketika Yesus berkata, “Sebab di luar Aku, kamu tidak dapat berbuat apa-apa.” Itulah sebabnya kita tidak meminta dengan tekun.
Mengapa Tuhan ingin kita meminta dengan tekun; mengapa Dia tidak langsung memberi apa yang kita minta saat pertama kali kita memintanya? Bukankah itu jauh lebih mudah? Mengapa harus terus menerus minta kepada-Nya untuk hal yang sama?
Pertama, jika kita tidak tekun meminta, mungkin kita tidak terlalu menginginkannya. Kita hanya akan terus meminta, jika apa yang kita minta itu sangat penting bagi kita.
Kedua, permintaan yang tekun membawa kemuliaan bagi nama Tuhan. Karena meminta dengan tekun merupakan indikasi kepercayaan kita kepada Tuhan. Satu-satunya alasan kita terus meminta adalah karena kita yakin akan kebaikan-Nya untuk menjawab doa dan juga menunjukkan bahwa Yesus’lah satu-satunya harapan kita. “Tuhan, Engkaulah satu-satunya pengharapanku. Engkaulah satu-satunya yang dapat menolongku. Meminta dengan tekun menunjukkan hal itu dan itu memuliakan Tuhan.
Ketiga, mengungkapkan apakah kita memahami Injil atau tidak. Hanya mereka yang memahami Injil yang akan berdoa dengan tidak malu dan dengan tekun.
Ada dua cara untuk menghampiri Tuhan: Agama dan Injil.
Agama mengatakan, “Tuhan adalah bos besarku, aku harus menjadi baik untuk membuat Dia senang. Jika aku cukup baik, maka Tuhan akan mendengar doaku. Tetapi jika aku tidak cukup baik, Dia tidak akan memberi apa yang aku minta. Semuanya bergantung pada performaku. Aku harus bekerja keras untuk mendapatkan apa yang aku inginkan.”
Injil berkata, “Tuhan adalah Bapaku, aku tidak akan pernah cukup baik dengan usahaku sendiri untuk membuat Tuhan senang. Tetapi Yesus sangat baik, Dia telah menjalani kehidupan yang tidak dapat aku jalani; Dia telah melakukannya untuk aku. Dan karena performa Yesus yang sempurna, sekarang aku diangkat sebagai anak Allah. Tuhan mendengarkan aku bukan karena aku bekerja untuk itu tetapi karena Yesus telah bekerja untuk itu. Aku dapat dengan bebas datang kepada Tuhan dan meminta apa yang aku butuhkan.”
Cara kita meminta kepada Tuhan menunjukkan ‘apakah Tuhan adalah bos atau Bapa kita.’ Seorang karyawan harus bekerja keras, sebelum dia mendapatkan sesuatu dari bosnya. Sedangkan seorang anak tahu bahwa Bapa mengasihinya dan anak memiliki keberanian untuk meminta dengan tekun. Tuhan bekerja dalam hubungan dan Dia senang melihat anakNya datang dan bergantung kepada-Nya. Tuhan ingin kita terus meminta, mencari dan mengetuk. Jangan cepat menyerah! Mungkin alasan mengapa doa tidak bekerja adalah karena kita terlalu cepat menyerah.
John Piper berkata, “Ketekunan dalam doa akan membawa kemenangan bersama Tuhan, jangan menyerah!” Dengan kata lain, Tuhan hanya akan memberikan beberapa hal sebagai jawaban atas doa kita yang tekun.
Mungkin anda telah berdoa untuk keselamatan orang tua anda selama bertahun-tahun; anda telah berdoa untuk pasangan hidup anak anda; anda telah berdoa untuk kesehatan anda; anak anda yang bandel; pekerjaan anda dll?? Jangan terlalu cepat menyerah, ganggu Tuhan. Dia senang ketika kita mengganggu-Nya dengan doa-doa dan Dia senang menjawab doa-doa yang tidak malu.
Pertanyaan yang timbul di pikiran anda, “Apakah itu berarti aku akan mendapatkan semua yang aku minta? Apakah itu berarti jika aku tekun mengganggu Tuhan, Dia akan memberi apa’pun yang aku inginkan? Apakah aku dapat memanipulasi Tuhan untuk melakukan apa yang aku inginkan?
3. Meminta Dengan Penuh Kepercayaan - Lukas 11:11-13
11 Bapa manakah di antara kamu, jika anaknya minta ikan dari padanya, akan memberikan ular kepada anaknya itu ganti ikan?
12 Atau jika ia minta telur, akan memberikan kepadanya kalajengking?
13 Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di surga! Ia akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepada-Nya.
Para bapa, apakah ketika anak anda minta ikan goreng, anda memberi ular bakar? Atau jika anak anda minta telur dadar, anda memberi kalajengking?” Jawabannya tentu saja tidak; tidak ada bapa yang melakukan itu. Kemudian Yesus membandingkan kasih bapa duniawi dengan kasih Bapa surgawi. Yesus berkata kepada semua bapa, “Jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapa di surga!” Yesus menggunakan kata jahat untuk menggambarkan bapa di bumi karena Yesus memberitahu bahwa kasih terbaik bapa di dunia tidak dapat dibandingkan dengan kasih Bapa di surga. Jika dibandingkan dengan kasih Bapa surgawi, kasih terbaik bapa duniawi terlihat seperti kejahatan. Tuhan adalah Bapa yang jauh lebih baik daripada bapa duniawi mana’pun.
Sebaliknya para bapa, “bagaimana jika anak anda meminta ular dan kalajengking? Tentu anda tidak akan memberinya. Seringkali kita tidak menerima apa yang kita minta bukan karena Tuhan tidak mengasihi kita tetapi karena Tuhan sangat mengasihi kita. Tuhan tidak akan memberi apa’pun yang akan menghancurkan kita, tidak peduli seberapa tekun kita memintanya.
Doa sangat berkuasa, doa memberi kita akses kepada Tuhan semesta alam. Namun seringkali kita tidak tahu apa yang kita minta. Kita mungkin berpikir bahwa kita meminta ikan dan telur, padahal sebenarnya kita meminta ular dan kalajengking. Tuhan tidak memberi apa yang berbahaya bagi kita. Tuhan berkomitmen hanya memberi apa yang baik bagi anak-Nya karena Dia adalah Bapa yang sempurna.
Timothy Keller berkata, “Tuhan akan memberi apa yang kita minta atau memberi apa yang akan kita minta, jika kita tahu segala sesuatu yang Dia tahu.”
Lukas 11:13 “Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di surga! Ia akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepada-Nya.
Aku meminta Tuhan memberi apa yang aku inginkan, bukan Roh Kudus. Mengapa Tuhan memberi Roh Kudus? Ini adalah klimaks dari seluruh perikop.
Roh Kudus adalah pribadi ketiga dari Tritunggal. Yesus berkata bahwa Tuhan akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepada-Nya. Ini adalah pemberian terbesar yang Tuhan dapat berikan - diri-Nya sendiri. Dengan kata lain, Yesus berkata, “Jika kamu tahu apa yang benar-benar kamu butuhkan, jika kamu tahu apa yang paling penting, kamu akan meminta Roh Kudus.” Tugas Roh Kudus adalah membangun hubungan kita dengan Tuhan.
Roma 8:15b,… tetapi kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru: ”ya Abba, ya Bapa!”
Paulus menyebut Roh Kudus sebagai Roh yang meng’adopsi kita sebagai anak Allah, yang oleh-Nya kita berseru, “Abba! Bapa.”
Roh Kudus membuat kasih Tuhan menjadi nyata di dalam diri kita. Mengetahui Tuhan mengasihi kita adalah hal yang berbeda dengan merasakan bahwa Tuhan mengasihi kita. Kita tidak hanya berkata, “Ya, aku percaya Tuhan mengasihi aku,” tetapi kita merasakan, kita meleleh oleh kasih-Nya. Inilah yang kita butuhkan di atas segalanya.
Secara naluriah mereka datang kepada orang tua mereka dengan tidak malu dan dengan tekun. Secara naluriah mereka mempercayai dan tahu bahwa orang tua mengasihi dan menerima mereka. Secara naluriah mereka tahu dan tidak ada yang mengajari. Mereka mungkin baru mengamuk satu jam yang lalu tetapi mereka percaya sepenuhnya bahwa mereka diterima dan tidak akan dikeluarkan dari keluarga. Mereka tahu bahwa orang tua mengasihinya dan mereka bisa datang setiap saat tanpa khawatir “apakah mereka pantas mendapatkannya atau tidak.” Mereka datang begitu saja, ini merupakan hal yang naluriah bagi anak-anak.
Namun ketika tumbuh dewasa, mereka kehilangan naluri ini. Mereka mulai berpikir bahwa mereka harus mendapatkan kasih sayang orang tua melalui performa. Ini yang membuat kita sangat sulit berhubungan dengan Tuhan.
Roh Kudus memulihkan naluri kita sebagai anak dan Tuhan adalah Bapa kita. Hubungan kita dengan Tuhan tidak didasarkan pada performa tetapi pada kasih karunia.
Kebutuhan terbesar kita adalah mendapatkan kembali naluri sebagai anak dan memulihkan respons anak terhadap Bapa surgawi.
Mengapa sulit bagi kita untuk berdoa? Mengapa kita marah karena doa yang belum dijawab? Mengapa kita marah karena Tuhan tidak melakukan seperti yang diinginkan? Mengapa kita kuatir akan masa depan?
Karena kita lupa bahwa Tuhan adalah Bapa kita. DIA akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepada-Nya. Roh Kudus adalah pemberian terbaik.
Berapa harga yang Yesus harus bayar untuk memberi anda Roh Kudus, Roh yang adopsi sebagai anak sehingga kita bisa bernyanyi “Abba, Bapa”?
Mengapa kita bisa menjadi bagian dari keluarga Allah? Karena Anak Allah dikeluarkan dari keluarga.
Setiap kali Yesus berdoa, Dia selalu memanggil Allah dengan sebutan, “Bapa.” Kecuali ketika Yesus berseru kepada Allah bukan sebagai seorang anak, Dia tidak berkata, “Bapa-Ku,” Yesus berkata, “Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” Itu terjadi di kayu salib.
Di kayu salib, Yesus menanggung hukuman atas dosa-dosa kita. Yesus menerima apa yang seharusnya kita layak menerimanya yaitu penolakan dari Allah. Kita telah memberontak terhadap Allah, kita layak mendapat ular dan kalajengking.
Di kayu salib, Yesus mendapat ular dan kalejengking sehingga kita yang percaya kepada-Nya bisa mendapat ikan dan telur.
Di kayu salib, nama Yesus dicoret dari kartu keluarga Allah sehingga kita yang percaya kepada Yesus, nama kita tertulis di dalam kartu keluarga Allah.
Inilah Injil. Karena Injil kita dapat mengetahui bahwa Bapa surgawi mengasihi kita tanpa syarat dan Dia berkomitmen untuk kebaikan kita.
Injil memberitahu bahwa Yesus telah menanggung hukuman yang layak kita terima dan yang tersisa untuk kita hanyalah kebajikan dan kemurahan Tuhan belaka.
Injil memberitahu bahwa Yesus telah menerima penolakan Bapa sehingga kita bisa mendapatkan jawaban Bapa.
Roma 8:32 “Ia, yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri tetapi yang menyerahkan-Nya bagi kita semua, bagaimana mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia?”
Injil meyakinkan bahwa Yesus selalu mendengar doa kita; Dia tidak pernah meninggalkan kita. Dia mungkin tidak selalu memberikan apa yang kita minta tetapi jika kita adalah anak-anak-Nya, Dia selalu memberikan apa yang baik bagi kita.
Jadi, apa permintaan anda hari ini? Jangan berhenti meminta!
Teruslah minta kepada-Nya dengan tidak malu, dengan tekun dan dengan penuh kepercayaan. Bapa kita di surga tidak pernah gagal memberikan apa yang baik bagi anak-anak-Nya yang meminta.
Discussion questions:
- Apa yang paling berkesan bagi Anda dari khotbah ini?
- Mengapa Anda sering merasa susah untuk meminta kepada Tuhan dengan tidak malu?
- Anda bisa datang kepada Tuhan dan melihat Dia sebagai Bos atau Bapa. Yang mana yang menjadi kecondongan Anda dan mengapa?
- Apa artinya untuk meminta kepada Tuhan dengan penuh kepercayaan?
- Bagaimana Injil memampukan Anda untuk meminta kepada Tuhan?
