Rock Church Logo

Yesus Mengasihi Orang yang Berdosa

Sermon by: Ps. Samuel Yusuf
13 September 2026

Yesus Mengasihi Orang yang Berdosa

Lukas 15:1–10

Lukas 15 dimulai dengan para pemungut cukai dan orang-orang berdosa yang datang kepada Yesus untuk mendengarkan-Nya. Sementara itu, orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat bersungut-sungut karena Yesus menerima orang berdosa dan bahkan makan bersama mereka. Menanggapi hal tersebut, Yesus menceritakan perumpamaan tentang domba yang hilang dan dirham yang hilang. Kedua perumpamaan ini memperlihatkan hati Allah terhadap mereka yang terhilang: Dia tidak meninggalkan mereka, tetapi mencari, memulihkan, dan bersukacita ketika mereka kembali kepada-Nya.

Yesus menggambarkan seorang gembala yang meninggalkan sembilan puluh sembilan ekor domba untuk mencari satu domba yang hilang. Gambaran domba ini mencerminkan keadaan rohani kita. Seekor domba mudah kehilangan arah dan tidak mampu menemukan jalan pulang dengan kekuatannya sendiri. Demikian juga kita dapat begitu sibuk dengan pekerjaan, keberhasilan, hubungan, berkat, dan berbagai kesenangan hidup sehingga tanpa disadari mulai menjauh dari Sang Gembala. Kita mungkin masih mengenal suara-Nya, tetapi sering kali terlalu sibuk dengan hal-hal lain sehingga tidak lagi mengikuti-Nya.

Perumpamaan ini mengingatkan bahwa kita tidak mampu menyelamatkan diri sendiri. Domba yang tersesat sepenuhnya bergantung kepada gembala yang mencarinya, mengangkatnya, dan membawanya kembali pulang. Demikian juga keselamatan kita bukanlah hasil dari kepandaian, kekuatan, pencapaian, aktivitas keagamaan, ataupun perbuatan baik kita. Kita sepenuhnya bergantung kepada anugerah Allah. Yesus, Sang Gembala Agung, adalah Pribadi yang datang mencari kita dan melakukan apa yang tidak mungkin kita lakukan bagi diri kita sendiri.

Hal ini juga menunjukkan betapa berharganya kita di mata Tuhan. Ketika sang gembala menemukan dombanya, ia dengan sukacita meletakkannya di atas bahunya. Ketika perempuan itu menemukan dirhamnya, ia memanggil sahabat dan tetangganya untuk bersukacita bersama. Yesus mengatakan bahwa demikian juga ada sukacita di surga karena satu orang berdosa yang bertobat. Kita memang adalah orang berdosa yang tidak mampu menyelamatkan diri sendiri, tetapi kita begitu berharga dan dikasihi di mata Allah.

Yesus menunjukkan kasih tersebut dengan meninggalkan kemuliaan surga dan datang ke dalam dunia yang telah rusak oleh dosa. Dia menerima orang-orang yang ditolak oleh masyarakat dan para pemimpin agama, bahkan makan bersama orang berdosa sebagai tanda penerimaan dan kedekatan. Tujuan-Nya bukan hanya untuk berada bersama mereka, tetapi membawa orang-orang yang terhilang masuk ke dalam sebuah komunitas baru—komunitas Kerajaan Allah yang dibentuk oleh kasih karunia-Nya.

Karena itu, gereja seharusnya bukan menjadi komunitas orang-orang yang berpura-pura sempurna. Kita semua adalah orang-orang yang membutuhkan anugerah yang sama. Kita dapat datang kepada Tuhan dengan jujur, mengakui kelemahan dan kebutuhan kita akan Dia. Kita dipanggil untuk saling mendoakan, saling menolong, dan membangun komunitas di mana kasih karunia Tuhan dapat dialami secara nyata.

Injil juga mengubah alasan kita melakukan perbuatan baik. Kekristenan bukanlah tentang melakukan pelayanan, memberi, berdoa, atau menaati Tuhan supaya kita diterima dan diberkati oleh-Nya. Efesus 2 mengingatkan bahwa Allah yang kaya dengan rahmat telah menghidupkan kita bersama-sama dengan Kristus ketika kita masih mati karena dosa. Karena itu, perbuatan baik bukanlah cara untuk memperoleh keselamatan, melainkan buah dari kehidupan baru yang sudah kita terima melalui kasih karunia. Kita beribadah, melayani, memberi, dan mengasihi sesama karena Tuhan terlebih dahulu telah mengasihi dan menebus kita.

Sang Gembala yang mencari domba yang hilang pada akhirnya juga menjadi Anak Domba yang memberikan hidup-Nya bagi mereka. Yesus bukan hanya datang mencari kita, tetapi menyerahkan tubuh dan darah-Nya untuk menebus kita. Sang Gembala Agung menjadi Anak Domba Allah supaya orang berdosa yang terhilang dapat menerima pengampunan, dipulihkan, dan dibawa kembali pulang.

Karena Kristus, kita dapat datang kepada Tuhan tanpa berpura-pura bahwa kita layak, tetapi juga tanpa merasa bahwa kita sudah terlalu jauh untuk menerima kasih karunia-Nya. Kita dapat datang dengan jujur dan berkata, “Tuhan, aku membutuhkan Engkau.” Keyakinan kita bukan terletak pada seberapa baik diri kita, melainkan pada sempurnanya pengorbanan Kristus bagi kita.

Setelah mengalami kasih Sang Gembala Agung, kita pun dipanggil untuk memiliki hati yang sama terhadap orang lain. Mereka yang telah ditemukan dapat ikut mencari yang terhilang. Mereka yang telah menerima kasih karunia dapat membagikan kasih karunia. Mereka yang telah dipulihkan dapat menolong memulihkan orang lain. Kesaksian kita bukanlah bahwa kita lebih baik daripada orang lain, tetapi bahwa ada Sang Gembala Agung yang mencari kita, membawa kita pulang, dan memberikan hidup-Nya bagi kita.

Pesan Lukas 15 adalah pesan tentang kasih karunia yang luar biasa: kita pernah terhilang dan tidak mampu menyelamatkan diri sendiri, tetapi Yesus datang mencari kita. Dia menemukan kita, memikul kita, membawa kita kembali pulang, menerima kita ke dalam keluarga-Nya, dan bersukacita ketika kita kembali kepada-Nya.

Discussion questions:

  1. Apa yang paling berkesan bagi Anda dari khotbah ini?
  2. Mengapa Yesus menggunakan domba sebagai contoh untuk menggambarkan manusia? Dapatkah Anda melihat kesamaan Anda dengan domba? Ceritakan dan jelaskan.
  3. "Beauty is in the eyes of the beholder." Bagaimana perkataan ini mengubah pengertian Anda tentang Tuhan dan diri Anda sendiri?
  4. Bagaimana Injil mendorong Anda untuk mengasihi dan mencari mereka yang terhilang?
  5. Langkah apa yang bisa Anda ambil minggu ini untuk mengasihi dan mencari mereka yang terhilang?